Wednesday, April 15, 2020

Life Beyond Expectation: Tentang Kebaikan Berbagi dan Cara Mewariskannya

Saya selalu meyakini bahwa hidup saya ini susuk. Saya tidak memiringkan kata susuk karena ia sudah termasuk lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ada banyak pengertian susuk dalam KBBI, tetapi saya memilih definisi susuk dalam bahasa Jawa karena sesuai dengan konteks yang saya bahas. Susuk berarti uang kembalian, yakni uang sisa pembayaran yang harus diserahkan kepada pembeli sebab nominalnya melebihi nilai transaksi.

Saya sebut hidup saya susuk karena banyak sekali yang terjadi di luar ekspektasi atau harapan pribadi. Saya pakai kata susuk untuk menggambarkan pengalaman hidup sebab kejadian demi kejadian begitu luar biasa, melebihi apa yang saya bayangkan. Agar lebih jelas, izinkan saya mengelaborasi dengan menampilkan beberapa contoh riil.

Sebut saja status saya sebagai suami. Saya tak pernah berpikir akan bisa menikah lantaran merasa tak punya wajah menawan atau kelebihan yang bisa diunggulkan. Entah kemampuan atau kekayaan, dua-duanya rasanya jauh dari kapasitas saya. Sudah pasrah untuk hidup melajang salah satunya juga pernah kecewa karena gagal menikah.

Semua berubah ketika usia menginjak 26 tahun; saya bertemu calon istri di tempat kerja—suatu kantor penerbitan di bilangan Ciawi, Bogor. Dia mau menerima saya apa adanya, dan saya ibarat mendapat durian runtuh karena mendapat jodoh tak terduga. Rezeki tak ternilai sebab kami akhirnya menikah. Istri saya seorang penyintas kanker payudara yang telah bertahun-tahun menjalani terapi setelah gagal berumah tangga akibat KDRT.

MELAMPAUI IMPIAN

Saya sendiri sejak kecil sering sekali sakit-sakitan. Masih jelas terngiang ujar mendiang ayah dulu, “Kalau kita diuji dengan sering sakit, insyaallah kita akan diberi kelebihan nanti.” Saya hidup dengan optimisme itu sampai suatu titik saya menyadari, atau tergoda menyimpulkan, “Jangan-jangan kelebihanku ya karena sering sakit itu. Tak lebih.” Mungkin terdengar seperti seorang fatalis, tapi itulah yang terjadi sampai saya menikah.

Delapan tahun didera ISK alias Infeksi Saluran Kemih yang sangat menyiksa bukanlah perkara mudah bagi saya. Bisa bekerja di Bogor sejak tahun 2006 sungguh sebuah anugerah. Tahun 2005 pernah ada tawaran kerja ke Sumatera tapi harus saya batalkan akibat keterbatasan sakit ISK itu. Sewaktu masih di Bogor pun sempat ditawari bekerja di lembaga pembiayaan yang berbasis di Amerika untuk bekerja di perwakilan Jakarta. Sayangnya jam bekerja tidak memungkinkan sehingga tawaran itu pun melayang.

Intinya pernikahan kami sungguh sebuah nikmat tak terkira. It’s completely beyond our expectation or wildest dream. Maka tak ada alasan untuk tak bersyukur atas rezeki berupa jodoh. Kami semakin bersyukur ketika Allah menganugerahi dua jagoan lucu yang kini duduk di kelas 3 dan 1 SD. Rasa syukur tak henti kami panjatkan sebab kami sudah sumeleh, sudah pasrah untuk tak memiliki momongan. 

Semua itu lantaran kondisi kesehatan kami masing-masing. Istri telah menjalani medikasi selama dua tahun dengan banyak asupan obat yang disinyalir memengaruhi kesehatan reproduksinya. Sementara saya sendiri hidup dengan ISK sudah selama 20 tahun. Keadaan semacam itu menjadi permakluman bahwa kami tak berani mengharapkan keturunan. 

Sebab itulah kami sebut hidup kami susuk, sudah melebihi ekspektasi: dengan diberi pasangan yang saling menguatkan dan bahkan dua anak yang menjadi pewaris kebaikan. Sejak saat itulah kami bertekad untuk #menebarkebaikan sebab kami diberikan lebih dari apa yang kami idamkan.  

KURSUS BAHASA INGGRIS GRATIS

Langkah kecil kami dimulai dengan mendirikan Bright English Institute (BEI) di Kampung Cibolang, Desa Banjarwangi Kecamatan Ciawi. Anak-anak kompleks dan kampung sebelah rata-rata berasal dari kalangan ke bawah. Orangtua mereka bekerja sebagai tukang ojek, buruh tani, buruh pabrik, satpam, penjual cilok, dan semacamnya. Maka kami gratiskan belajar bahasa Inggris di BEI.

Anak-anak senang sekali belajar di sana sampai berjalan sekitar 3 tahun karena kami harus pindah rumah. Setiap Minggu sore mereka bersemangat datang untuk belajar dan bermain bersama di rumah kami yang mungil. Sesekali orangtua mereka menitipkan bawang merah, jagung manis, rengginang, dan aneka sayur atau buah dari kampung. Kami gembira karena itu berarti orangtua turut serta memikirkan pendidikan anak mereka.

Pengalaman secuil itu mengajarkan kami tentang kebaikan berbagi. Tentang betapa perbuatan sekecil apa pun punya manfaat yang sangat berarti bagi orang lain, bahkan saat kita tak menyadarinya. Kami mulai menyadari bahwa fakta-fakta tentang kebaikan mulai menampakkan diri dan harus kami yakini kebenarannya. 

1 | Kebaikan itu menular

Bukan hanya peserta didik yang kegirangan, tapi ada satu rekan kantor yang datang hampir pada setiap kesempatan setiap pekan. Rekan editor ini asli Solo dan sayalah dulu yang membimbingnya saat ia kali pertama bergabung di perusahaan. Jadilah hubungan kami cukup erat. Ia pun bersahabat dengan istri saya.



Sesekali ia mendapat giliran mengajar saat saya berhalangan. Pengalaman itu rupanya membekas di hatinya. Setelah BEI terhenti, ia kemudian aktif di komunitas Anak Manggarai yang ia kenal dari Jambore Anak Jalanan. Sampai sekarang ia masih aktif mengajar di sana dan tak lelah berjeraring dalam kebaikan.

Banjir tak terduga

Kebaikan yang menular juga terbukti belum lama ini. Sepekan yang lalu kami sekeluarga mendapat musibah. Sungguh tak terduga jika kami harus kebanjiran. Hujan deras selama tiga hari berturut-turut, ditambah drainase perumahan yang burukjuga jebolnya tanggul di kampung sebelahturut memperparah banjir tahun ini. Tahun lalu air hanya tergenang di jalan depan rumah, tapi minggu lalu air masuk ke rumah hingga 20 cm.


Akhirnya kami mengungsi ke rumah ibu. Untunglah hanya beda kecamatan, yang bisa kami tempuh sekitar 20 menit dengan menumpang kendaraan adik ipar. Malam hari setelah mengungsi, saya sempat mengunggah kondisi banjir di status WhatsApp (WA). Rupanya seorang teman bloger asal Sidoarjo membaca status tersebut.

Ia lantas mengirimkan pesan berisi simpati atas musibah yang kami alami. Sebagai bentuk pertolongan, ia menawari saya pekerjaan di medsos, bidang yang memang saya geluti selain blogging. Saya tentu langsung menyambut tawarannya dan menceritakan bahwa fee-nya akan saya manfaatkan untuk membeli nasi bungkus. Terbayang nasib para tetangga dan teman yang tak punya tempat mengungsi di tengah banjir. Nasi siap santap akan sangat menyenangkan hati mereka.

Di luar dugaan, teman bloger tadi bersedia mengirimkan fee seketika itu juga bahkan sebelum tugas saya rampungkan. Setelah mengirimkan nomor rekening, dia mengonfirmasi pentransferan. Yang bikin mata terbelalak, uang yang ia kirimkan ternyata dua kali lipat dari nominal fee. Lewat WA ia berkirim pesan lagi bahwa sisa uang ingin ia sumbangkan untuk teman-teman saya yang terdampak banjir. Subhanallah, mendadak mata saya meleleh karena terharu.

50 nasi bungkus 

Terbukti betul bahwa kebaikan memang menular. Saya segera memesan nasi bungkus untuk dibagikan esoknya. Karena menumpang di rumah adik, saya pun meminta rekomendasi di mana saya bisa memesan nasi bungkus yang enak dan cepat. Dia sigap memesankan ke langganannya yang ternyata sanggup memasak untuk esok pagi.

Tanpa saya sangka, adik memesan nasi bungkus jauh lebih banyak dari honor saya plus titipan donasi dari teman bloger. Total ada 50 nasi bungkus yang bisa saya bagikan besok siangnya. Adik hanya mengangguk sambil tersenyum saat saya tanya apakah ia menambah uang pada nasi yang dipesan sehingga jumlahnya membengkak cukup banyak. Alhamdulillaah....  


Nasi bungkus di saat banjir, mengusir lapar berkat donasi.

2 | Kebaikan itu menghadirkan solusi

Akhir tahun 2016 kami harus pindah ke Lamongan, meninggalkan Bogor yang telah kami huni selama sebelas tahun. Demi dekat dengan ibu, kami pun segera memilah barang-barang, mengemas mana yang bisa dibawa dan menghibahkan untuk teman atau tetangga. Masalah muncul ketika sebagian besar barang telah siap tapi moda pengangkut belum juga kami dapatkan.

Menyewa truk ekspedisi bisa saja solusi terbaik karena praktis dan tepercaya. Namun setelah browsing di Internet dan tanya sana-sini, biaya pindahan menggunakan truk jasa logistik resmi semacam itu ternyata cukup besarpadahal kami sedang melakukan pengiritan. Nominal pengiriman bisa kami manfaatkan untuk kehidupan baru nanti di kota tujuan.

Tunggakan SPP jutaan rupiah

Di tengah kebingungan, Bu Karminatetangga dari kampung sebelahberkunjung suatu pagi. Ia datang untuk meminta pekerjaan domestik. Ia setengah memaksa; mau mengepel, menyapu, menyeterika, bersih-bersih, pokoknya apa pun demi dapat uang guna membayar tunggakan SPP anaknya. Suaminya sudah beberapa hari tak mengayuh becak karena becaknya rusak. Anak SMK-nya tak mau sekolah karena malu telah menunggak berbulan-bulan. 

Kami sebagai freelancer tak punya banyak uang. Istri akhirnya mengangsurkan sedikit uang agar Bu Karmina bisa membeli beras untuk beberapa hari. Senyum membuncah di wajahnya. Namun hati kami kecut sebab tak bisa membantu banyak. Saya lantas teringat sebuah Lembaga Amil Zakat (LAZ) tak jauh dari rumah. Kami kebetulan jadi donatur untuk anak asuh di sana.



Segera saya meluncur ke kantornya dan menceritakan masalah Bu Karmina. Mereka berjanji menindaklanjuti walau tak menyanggupi menutup seluruh tunggakan. Tak lama berselang, tim LAZ lalu menyambangi Bu Karmina untuk mendata dan wawancara. Sungguh tak terduga, lembaga itu ternyata berkenan melunasi seluruh tunggakan. Bu Karmina pun datang ke rumah untuk tak hentinya berterima kasih.

Kisah Bu Karmina adalah bukti betapa besar manfaat zakat untuk mengatasi masalah umat. Problem pendidikan yanag dialami anak Bu Karmina bisa dipandang sebagai beasiswa karena sebagian ulama membolehkan jatah fi sabilillah untuk kebutuhan beasiswa, apalagi Bu Karmina termasuk kategori keluarga miskin.


Truk pindah murah meriah

Beberapa hari kemudian, kakak menelepon bahwa dia berhasil mendapatkan truk dengan harga terjangkau. Truk itu membawa sayur dari Banyuwangi ke Jakarta sehingga saya bisa memanfaatkannya untuk mengangkut barang-barang, termasuk motor. Syukur alhamdulillah, truk itu pun datang akhir Januari 2017 dalam keadaan bersih dan prima. Barang-barang saya meluncur dari Bogor dan tiba di Lamongan dengan selamat sehari kemudian.


3 | Kebaikan itu mendatangkan rezeki

Bukan rahasia lagi, berbuat baik mampu mendatangkan rezeki tak disangka-sangka. Pengalaman saya pribadi menegaskannya. Untuk rezeki dalam hal ini, yang saya maksud tentunya luas maknanya. Bukan cuma uang, tapi juga barang atau kesempatan.

Amplop berisi uang

September tahun lalu si bungsu ikut khitanan massal di Masjid Namira yang masyhur itu. Seperti biasa, setiap Jumat pagi saya ikut berbagi nasi bungkus lewat komunitas yang saya ikuti selama dua tahun, yakni Nasi Bungkus Community. Sebetulnya, badan agak meriang sehingga rasa malas menggelayuti. 

Saya tetap pergi karena Jumat pagi jarang ada relawan yang bisa hadir lantaran berbagai kesibukan. Biasanya hanya ada dua atau tiga, antara lain saya dan bendahara. Saat pamit pulang selepas ngider nasi, dia mengulurkan amplop untuk anak saya yang baru dikhitan. Saat dibuka di rumah, wow, jumlahnya besar sekali. Andai saya batal berangkat ngider, mungkin rezeki sebesar itu akan melayang. Mungkin....

Honor dibayar dengan cepat

Langkah saya lunglai ketika naik kereta dari Surabaya ke Lamongan setelah reportase sebuah acara. Lesu karena saldo ATM menipis sementara fee banyak yang mundur. Wajah saya mendadak semringah ketika sebuah email mengabari saya lolos untuk menulis tema tertentu. Faktor kelolosan utama adalah punya page khusus di blog yang membahas pembelajaran bahasa Inggris.

Saya ingat pernah membuat page bertajuk English Nook berisi pembelajaran bahasa Inggris gratis yang bisa dimanfaatkan teman-teman bloger lain atau pembaca umum untuk bertanya apa saja seputar bahasa Inggris. Tak dinyana ternyata page itu mendatangkan rezeki; honor lumayan dan bahkan dibayarkan hanya beberapa hari begitu tulisan saya selesaikan. 

Pengusiran yang memilukan

Bulan Oktober saya bertolak ke Pemalang Jawa Tengah untuk mengikuti Kelas Inspirasi (KI) di sana. Ini adalah KI ketiga yang saya ikuti, setelah Lamongan dan Ponorogo. Sayangnya saldo sedang tipis tapi saya mesti berangkat sebab sudah dinyatakan lolos. Berangkat dengan biaya sendiri, pulang pergi naik kereta.


Kelas Inspirasi Pemalang #3 meninggalkan pengalaman dan kesan sangat mendalam.

Untunglah, saat transit di Semarang untuk Jumatan seorang teman kuliah yang sedang mudik berkenan menjemput di stasiun dan mentraktir saya makan sepuasnya. Setiba di Pemalang seorang teman bloger asal Pemalang menghadiahi saya satu karton besar berisi teh tubruk melati yang memang kami gemari. Masyaallah, apakah traktiran dan hadiah teh akan tetap saya terima andai saya tak beranjak ke Pemalang?

Yang tak terlupakan adalah insiden pengusiran oleh ayah seorang relawan. Lazimnya relawan Kelas Inspirasi dipersilakan menginap di rumah relawan setempat untuk menunggu jadwal keberangkatan kereta yang tak jarang bertolak Subuh hari. Sayang sekali selepas magrib ayah teman ini menolak kehadiran saya. Alasannya karena mereka belum mengenal saya betul-betul. Belum lama ini, menurut sang ayah dalam bahasa Jawa Ngapak yang saya pahami, ada kasus penyisipan narkoba di rumah warga akibat menerima tamu asing yang menginap. 

Rupanya saya dicurigai dan memang beliau belum mengenal dunia kerelawanan. Saya bahkan sempat diminta menyerahkan KTP. Saya pun melipir ke masjid sebelah rumahnya untuk ikut shalat Isya karena rumahnya sedang langka air. Kalut, saya pun mengontak panitia lokal agar mencarikan solusi mengingat saya tak punya dana untuk menginap di hotel atau homestay sekalipun. Syukurlah, Pak Harun selaku sesepuh KI Pemalang berkenan menampung saya di rukonya. Saya bisa beristirahat di antara deretan laptop karena ruko itu adalah tempat servis laptop dkk.

Paket besar dari Jakarta


Selepas Subuh saya meluncur ke Semarang naik kereta, disambung kereta lain menuju Lamongan. Tiba di rumah, pengalaman nano-nano itu saya kisahkan kepada istri yang justru memberi saya selamat. Itu pengalaman berharga, katanya. Ucapan selamat kedua adalah atas diterimanya dua paket dari Jakarta. Begitu membuka peti kayu itu dan melihat isinya, saya kegirangan dan langsung bersujud.

Sebuah smartwatch canggih dan kamera mirrorless tampak memesona di dalamnya. Sungguh tak terduga jika barang ini akhirnya datang. Enam bulan sebelumnya saya dan istri ikut program menulis di portal Ramadhan milik sebuah merek produk consumer yang berskala global. Hadiah yang dijanjikan tak kunjung dikirim bahkan sempat tak ada kejelasan sehingga kami merelakannyatak berani berharap lagi.

Jika akhirnya paket itu datang, itu mungkin buah aksi kerelawanan sebagai pelicin atau booster agar hadiah itu benar-benar datang. Dua hari kemudian dua paket lebih besar datang dari perusahaan yang sama; berisi mixer dan magic com digital yang multifungsi. Jangan tanya betapa gembiranya kami dengan rezeki ini. Sebagian kami uangkan, sebagian lagi dipakai oleh adik di rumah ibu.

Apakah ada alasan untuk menunda saat kita mampu menebar kebaikan?   

4 | Kebaikan itu menghadirkan inspirasi dan mengayakan hati

Fakta lain tentang kebaikan adalah bahwa ia mampu menginspirasi siapa pun, entah relawan atau donaturnya. Ini terbukti dari pengalaman saya ikut KI di Pemalang. Pak Harun yang sempat menampung saya di rukonya ternyata lelaki hebat. Beliau tak punya anak, tapi berkomitmen untuk membekali anak-anak muda dengan keterampilan. Dia cari siapa pun yang mau belajar tentang reparasi laptop untuk ikut minimal 5 tahun. Disekolahkan pula, makan pun gratis sepuasnya. 

Pak Harun membagikan kisah kesuksesan dan membangun semangat kemandirian.

Untuk mereka disediakan kos khusus, terpisah laki-laki dan perempuan dan bahkan akan digaji setiap bulan yang nilainya besar untuk ukuran Pemalang. Apalagi gaji itu utuh mengingat makan mereka gratis dan masih ditambah bonus pengerjaan setiap kali mereka tuntas atau berhasil mereparasi laptop dari pelanggan. 

Saya bergumam, "Wah, enak betul!"  Saya menyerap energi positif dari Pak Harun bahwa kebaikan berbagi menular dan menginspirasi. Fragmen itu sungguh mengayakan hati. Pak Harun adalah contoh lelaki yang nyata menebar kebaikan demi membangun kemandirian. Kepeduliannya tanpa pamrih karena didasari cinta kasih.

5 | Kebaikan itu menyehatkan


Saya pernah cerita tentang pasutri tetangga yang kaya raya di dusun kami. Pak Mo dan Bu Mosebut saja nama mereka demikian. Sebagai orang terkaya, mereka rajin bersedekah dan membantu sesama. Masjid dan panti mereka tolong, tetangga yang tak mampu mereka dukung agar mandiri. Allah rupanya menguji keduanya dengan penyakit: Pak Mo kena diabetes sementara Bu Mo menderita sakit empedubahkan pernah dioperasi.

Namun tak sekali pun terdengar keluhan dari mereka akibat penyakit itu. Bahkan saya tak pernah melihat pendar kesedihan atau rasa sakit setiap kali bertemu mereka. Saya yakin itu berkat kemurahan hati mereka sehingga Allah tetap memelihara mereka dalam kelapangan rezeki dan kebugaran raga meskipun diuji sakit. Saya yakin kebaikan berbagi telah berkontribusi pada kesehatan meeka hingga kini. Sebagaimana saya sendiri yang merasa semakin sehat saat bersedekah selepas Subuh setelah mendengar tausiyah Syaikh Jabir di televisi walaupun masih sulit konsisten.

6 | Kebaikan itu menenteramkan hati

Berbuat baik, dalam bentuk apa punentah uang, tenaga, atau pikiranselalu membuat hati tenteram. Pikiran tenang dan hati adem, itulah yang terasa setiap kali menuntaskan aktivitas sosial di mana pun. Tahun 2012 kami pernah kelaparanhanya pegang uang 10.000akibat honor mengedit dan menerjemahkan buku yang tak kunjung dibayar. Padahal si bungsu baru seminggu lahir dan motor kami yang sudah lunas dicuri orang saat belanja di minimarket.

Itulah alasan saya ikut aneka kegiatan berbagi nasi, seperti Bernas di Bogor dan NBC di Lamongan. Orang kelaparan sangat menyedihkan, tak berani meminta tapi perut melilit seolah tiada harapan. Kalau tak menjaga hati, bisa-bisa bertindak kejahatan atau rela meninggal dunia seperti yang terjadi di Tangerang beberapa waktu lalu akibat kelaparan. Sungguh tragis jika ada orang yang perutnya sakit karena kelaparan sementara orang lain sakit perut karena kekenyangan.

Perasaan itulah yang melingkupi jiwa raga serampung membagikan nasi atau bantuan lain baik bersama komunitas maupun secara pribadi. Ada kepuasan yang tak tergambar dalam kata-kata tatkala melihat senyuman orang-orang yang menerima. Sama bahagianya ketika saya tuntas mendongeng di depan anak-anak korban gempa di Desa Cibunian Kecmatan Pamijahan Bogor akhir 2013 silam. 


Andil kecil untuk menumbuhkan semangat agar tidak kerdil.

Atas ajakan sebuah LAZ, saya berangkat bersama dengan membawa alat peraga dan buku-buku cerita untuk dibagikan di sana. Bukan hanya antusias mendengarkan dongeng agar mereka tidak trauma, anak-anak juga semringah ketika menerima hadiah tas sekolah beserta alat tulis, juga susu, sosis, mi instan, dan amplop berisi uang. Adakah yang lebih menenteramkan dibanding kepuasan batin melihat keceriaan wajah mereka di dataran tinggi yang sejuk itu yang jalannya terjal berkelok di sisi jurang nan tajam?   

CARA MEWARISKAN KEBIASAAN BERBAGI

1 – Menonton video atau tayangan teladan

Sebagai generasi Z yang sering dibilang sebagai digital natives, anak-anak perlu didorong untuk mengikuti kebiasaan berbagi melalui media digital, seperti video di Youtube atau aplikasi yang mendidik. Jika tersaji secara visual dengan warna memikat dan gerak yang dinamis, juga audio yang mumpuni, mereka akan cenderung tertarik dibanding membaca buku misalnya. Ini tentu saja bukan mengurangi peran buku, melainkan langkah awal saja. 

Dua anak kami sangat menikmati serial animasi Nusa di kanal Youtube dan tak jenuh memutar tayangan lagu Waheshna yang dibawakan oleh Maher Zain. Bagian paling menyentuh tentulah saat bapak penjaja jagung memberikan jagung gratis kepada anak yang tak bisa membayar—yang patut diduga anak yatim atau dhuafa. Anak-anak lain yang turut membeli lalu menyadari bahwa bapak pemurah ini ingin berangkat ke Tanah Suci. Mereka lantas sepakat untuk menggalang dana dan mengutarakan niat itu kepada orangtua.



Gayung bersambut, para orang dewasa mendukung ide itu sepenuhnya. Oh, sungguh mengharukan ketika anak-anak berhati malaikat ini berhasil menghimpun dana dan membelikan tiket umrah untuk bapak penjual jagung yang ingin berjumpa Kakbah. Diputar berulang, dengan melodi yang rancak, lagu ini sering membuat saya menitikkan airmata. Takjub akan kebaikan anak-anak yang berinisiatif berbuat baik, juga karena saya merindukan Kakbah seperti sang bapak.

2 – Ajak ke lapangan

Cara berikutnya adalah mengajak anak-anak untuk terjun langsung ke lapangan. Dahulu ketika masih aktif di Bernas (Berbagi Nasi) Bogor, sesekali kami libatkan anak-anak saat kami menyisir jalanan Bogor pada malam hari setiap Jumat pekan kedua dan keempat. Mereka turut mengangsurkan nasi untuk orang-orang tak beruntung, yang menginap di emperan toko sepanjang Jalan Suryakencana—atau yang rebahan karena sakit di emperan ruko Jl. Merdeka tak jauh dari Stasiun Bogor.

Cara itu terbilang ampuh. Mereka tak perlu mendapat penjelasan yang menggurui sebab telah melihat secara langsung dan memberikan penilaian sendiri. Menolong orang tidak butuh bahasa yang rumit. Meringankan beban sesama tak butuh langkah jelimet agar bisa sampai. Bahasa kasih sayang begitu gamblang dan lugas apa adanya sehingga anak-anak pun bisa dilibatkan dengan tetap bersyukur dan percaya diri.   

3 – Mengenalkan pada sosok pemurah

Setelah menikmati video inspiratif dan punya pengalaman terjun langsung untuk berlatih bersedekah, anak-anak bisa dikenalkan kepada orang atau sosok yang bisa mereka teladani. Berbeda dengan tayangan video karena seolah ada jarak, lewat cara ini anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan sosok pemurah itu. Tak harus orang yang punya nama atau popularitas secara sosial. Tetangga atau teman kita sendiri pun cukup.

Selain pada pemilik Masjid Namira yang sangat baik hati, saya mengenalkan anak-anak pada bendahara NBC yang juga pemurah, bukan hanya kepada karyawannya sendiri tetapi juga pada rekan sesama relawan dan orang asing. Dia memang ringan tangan, tak segan memberi atau membantu. Dulu dia bekerja di bank konvensional dengan gaji besar lalu berhenti karena konon ingin menjauhi praktik ribawi. Kebetulan ia punya usaha sehingga jadi tempat orang meminjam uang. Selain di NBC, ia pun aktif sebagai relawan di Masjid Namira yang fenomenal itu. Ramadhan tahun ia setidaknya belasan juta ia gelontorkan untuk paket sembako buat dhuafa yang terdampak Corona.  

4 – Menabung untuk beramal

Langkah yang tak kalah produktif adalah mengajak anak menabung dengan tujuan beramal. Saya sebut produktif karena manfaatnya berlipat. Selain membangun pribadi hemat dengan menahan keinginan, menabung akan memudahkan mereka menyumbang dalam jumlah besar—tentu sesuai kekuatan logis mereka. Ada kebanggaan tersendiri saat mereka menyisihkan uang untuk kegiatan amal. Entah untuk korban bencana atau bahkan sesederhana mentraktir temen sekelas yang tak punya ayah.

Agar lebih bersemangat, tak ada salahnya kita tawarkan reward atau imbalan jika target tertentu tercapai. Imbalan tak harus berupa uang, tapi menyangkut hal yang mereka sukai. Misalnya ditraktir di kedai favorit sepuasnya, dibelikan buku sesuai keinginan, atau dibantu membeli mainan yang selama ini diincar. Dengan cara seperti ini, mereka akan belajar menahan diri sekaligus berempati sehingga perlahan-lahan memahami makna berbagi.

5 – Tokoh sejarah penyayang

Kiat lain yang kami terapkan agar anak semangat berbagi adalah lewat perkenalan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah. Penting di sini maksudnya punya kualitas unggul yang layak diteladani. Entah lewat buku atau browsing di Internet, mereka sama-sama menikmati. Yang paling sering tentu sejarah Nabi Muhammad dan para sahabat yang terkenal pemurah dan penuh kasih sayang. Dilanjutkan dengan para pengikut yang lebih jauh hingga nama-nama yang sering diceritakan dalam buku tasawuf atau kisah teladan.

Menebar kebaikan adalah gerakan lintas wilayah dan keyakinan. Tak terbatas oleh sekat geografis, agama, atau kebangsaan. Tokoh-tokoh terkenal seperti Mother Theresa, Jack Ma, atau filantropis dunia seperti Bill Gates juga bisa menjadi sumber inspirasi agar cakrawala berpikir mereka berkembang luas dan semangat menebar kebaikan semakin membuncah tanpa khawatir menderita hanya karena membantu sesama sebab contoh-contoh nyata telah hadir begitu meyakinkan. Apalagi melihat Bill Gates yang bukan hanya gemar beramal, tetapi juga pebisnis dan ilmuwan yang bisa memantik kreativitas mereka untuk mengejar aspirasi yang sama.




Keluasan rezeki vs keluasan hati

Ternyata berbagi begitu menyenangkan, bahkan punya manfaatkan ganda bagi anak-anak saat tokoh yang diperkenalkan ternyata punya profesi yang mengagumkan. Melihat kembali perjalanan kami sebagai pasutri, hidup kami jelas beyond expectation: sungguh sangat kami syukuri karena begitu banyak yang kami peroleh tidak melulu dalam bentuk materi. Saya jadi merenungkan frasa yang sudah kadung populer dalam masyarakat sosial kita.

View this post on Instagram

Siapa yang tak sabar menyambut bulan suci Ramadhan? Saat pahala kita dilipatgandakan oleh Allah SWT dan bertabur berkah di dalamnya. Menyambutnya dengan bahagia, jangan lupa untuk laksanakan juga kewajiban berzakat. Agar harta bersih dan mengalirkan manfaat bagi yang melaksanakan ataupun yang menerimanya. Setiap 2,5% dari penghasilan atau harta yang kita miliki (sesuai ketentuan nisab), terdapat hak dari mereka yang tak mampu. Zakatmu yang disalurkan melalui lembaga, akan membantu mereka yang tidak mampu kembali berdaya. Di bulan ini, kami memberi hormat pada para perempuan yang berdaya untuk pengembangan ekonomi mandiri. Karena mereka juga adalah orang-orang yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi corona. Tunaikan zakat awal waktu, melalui donasi.dompetdhuafa.org Bisa juga klik link di bio Atau melalui transfer bank: BNI Syariah 444.444.555.0 BCA 237.301.8881 A.n Yayasan Dompet Dhuafa Republika. #dompetdhuafa #menebarkebaikan #viruscorona #covid19 #covid19indonesia #melawancovid19 #CekalCorona #cegahtangkalcorona #CukupDariRumah #lawancovid19 #lawancorona #zakat #zakatdidompetdhuafa #zakatdompetdhuafa #zakatdikitaaja #kebaikanzakat
A post shared by #DompetDhuafa Lembaga Zakat (@dompetdhuafaorg) on

Selama ini kita akrab dengan kalimat, “Silakan yang punya keluasan rezeki untuk bisa menyumbang atau membantu saudara kita yang kekurangan.” Setelah dicek dengan kisah-kisah nyata di lapangan, ternyata frasa keluasan rezeki kurang tepat dipakai. Tak jarang saya lihat orang-orang yang tidak kaya—bahkan hidupnya sendiri pas-pasan—tetap mau beramal atau bersedekah. Sebaliknya, tak jarang pula orang yang berlimpah harta tapi pelit luar biasa sebab merasa hartanya baru sedikit dan takut berkurang kalau harus bederma.

Frasa yang tepat menurut saya adalah keluasan hati. Sebab kenyataan membuktikan bahwa jika hati seseorang begitu lapang, luas dalam menampung rahmat Allah, maka sesedikit apa pun hartanya maka ia akan tergerak untuk membantu. Kalau fokus pada tercapainya keluasan rezeki, mungkin akan sulit bagi kita untuk bisa berbagi lantaran merasa terus kurang dan kurang. Dengan demikian keluasan hati adalah sebuah sikap mental yang harus kita definisikan sendiri sebagai sebuah identitas yang membuat kita siap berbagi kapan saja, di mana saja, dalam kondisi apa saja. Insyaallah!  

Previous Post
Next Post

Saya juga menulis di https://belalangcerewet.com dan https://www.misterblangkon.com/

68 comments:

  1. Pengalaman pribadi masing-masing orang ternyata menarik ya, penuh liku dan ujian, tapi akhirnya menjadi kisah indah yang layak dikenang dan dibagikan seperti ini. Bahwa memberi tidaklah dikurangi, justru mengundang banyak rezeki seperti yang habis Kelas Inspirasi itu. Ikut deg-degan. Terima kasih, semoga selalu istikamah dan berkah hidupnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, asalkan mau bergerak (dalam arti sudi memberi), solusi dan jalan keluar selalu tersedia--bahkan sering tak terduga. Yang penting aktif, insyaallah produktif melalui komunitas atau inisiatif pribadi. Terima kasih juga sudah mampir.

      Delete
  2. Masya Allah, kebaikan yang akan selalu berbuah kebaikan yang lain. Terharu banget bacanyaa mas, semogaa makin banyak kebaikan yang bisa dibagikan ya. Terima kasih banyak sharingnya, sehat sehat selaluu ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa konsisten ya Luck, dan yang lebih penting bisa ikhlas. Terima kasih juga sudah mampir dan mau baca kisah sederhanaku ya. Gimana udah balik kke Madiun atau masih di Korea? Ditunggu ilmunya buat bangsa Indonesia :)

      Delete
  3. semangat terus mas, aku juga meniru ibuku yg sampai usia 86 tahun masih suka berbagi sama orang lain. dan eh kedua anakku juga mencontoh diriku, alhamdulilah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa Mbak Tira punya ibu yang bisa jadi teladan dan mewariskan semangat berbagi. Semoga sehat selalu ya Mbak. Syukurlah kedua anak Mbak juga meniru, ini investasi besar karena mereka akan menjadi rahmat bagi lingkungan sosial.

      Delete
  4. Susuk atau kembalian, atau cashback dalam istilah kerennya ya mas.
    Masyaallahh mas, rangkaian perjalanan hidupnya begitu berwarna, terlebih banyak kisah yang juga memiliki kemanfaatan untuk sesama. Patut diteladani dehh ini.
    Itu mengapa sedih banget mas pengalaman saat ikut KI sampai bingung untuk pencarian tempat tinggal. Soalnya aku pun punya pengalaman ikut KI tapi alhamdulilah masih diterima warga sekitar dan smoga tidak ada kejadian yg sperti itu lagi ya mas.

    Patut untuk diapresiasi dahhh ini mas Rudi, good luck ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah lika-liku jadi relawan di kota berbeda, sering da kejadian tak terduga. Tapi selama ini sih banyakan pengalaman yang lebih menyenangkan. Teman baru selalu bertambah, artinya peluang juga meningkat hehe.

      Delete
  5. Sy jg percaya kebaikan itu akan menular pada orang sekitar terutama pada anak-anak oleh karena itu para orang tua harus mendidik anak dengan baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, Mas. Anak-anak sebagai generasi penerus harus dikenalkan pada semangat berbuat baik. Agar dampak kebaikan menjangkau wilayah meluas dan menebarkan pesan lebih kuat.

      Delete
  6. Dari kemarin nunggu waktu yang tepat biar bisa fokus baca tulisan ini. Tapi ternyata tulisannya panjang buanget, akhirnya berhenti di cerita Pak Mo dan Bu Mo -_-


    Tapi tetap. Selalu salut dengan setiap kegiatan yang mas rudi ikuti. Inspiratif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak Elisa, sudah mau main ke sini dan baca cerita saya. Hehe, emang panjang, biar utuh dan dinikmati sambil ngopi--eh sambil ngabuburit!

      Delete
  7. Ceritanya menginspirasi banget ini. Kebaikan yang menular, ini benar sekali ya, kak, telah banyak buktinya. Di saat yang sama, kebaikan juga memang mendatangkan kebaikan pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbamon. Motivasi dan semangat menulis buku Mbamon juga menular kok. Semoga habis Ramadhan ada buku yang bisa kuterbitkan. Salam :)

      Delete
  8. Ini tulisan bener-bener menginspiriasi, lengkap dari berbagai sisi, semakin kuat di benak ini, bahwa melakukan kebaikan, blas ga ada ruginya, adanya untung dan untung, baik dunia maupun akhirat. Makasih ya, Kangmas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maturnuwun, Kangmas. Sekadar membagikan cerita sederhana, barangkali bisa bermanfaat. Melakukan kebaikan memang ga ada ruginya blas, justru menguntungkan, dunia akhirat diberi keberkahan ya insyaAllah. Jadi kangen nasi kikil langganan Gus Dur yang di Jombang hehe....

      Delete
  9. Ipeh jadi banyak muhasabah pas baca artikel ini. Ternyata, banyak juga hal yang sama, beyond of my expectations. Mulai dari ngga mungkin bisa jadi blogger karena dulu cita-cita Ipeh mentok pengen jadi pembantu rumah tangga. Karena kondisi keuangan orangtua yang membuat Ipeh takut untuk mimpi yang ketinggian. Tapi, nyatanya Allah kasih lebih. Kelebihan susuknya.

    Semoga sehat selalu ya, kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata sekarang malah jadi bloger ya, banyak yang bisa dicapai melebihi ekspektasi sebelum jadi apa-apa. Pokoknya kalau ringan tangan, insyaAllah jalan selalu ada, solusi akan selalu diberi.

      Delete
  10. menebar kebaikan tentu jadi cara berbagi paling menentramkan. Ada banyak cara berbagi, tak harus juga dalam berbentuk barang. Masih bisa dengan tenaga dan buah pikiran.
    Bagi yang berkewajiban bisa menyalurkan lewat zakat agar harta disucikan karena ada hak orang lain disana. Berbagi tak pernah rugi. mari berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul itu, Mas. Bisa berbagi dalam bentuk apa saja sesuai kemampuan kita. Yakinlah imbalan dari Allah bakalan jauh lebih menyenangkan dibanding harapan kita.

      Delete
  11. Allah Maha Kaya ya Mas..dan njenengan memberikan banyak contoh dalam kehidupan nyata betapa kebaikan itu membawa susuk/kembalian dalam kehidupan...maturnuwun atas pengingatnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, Mbak Dwi, yang selalu terjadi selama ini. Saat butuh uang, hadirlah peluang. Ketika butuh solusi, Tuhan memberi intuisi setelah kita mau berbagi. Terima kasih ya Mbak sudah mampir ke sini, apa kabar Sidoarjo? Lama tak bersua ya. Semoga wabah segera selesai dan bisa kopdar lagi bareng teman-teman lain di Surabaya.

      Delete
  12. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita dengan cara luar biasa Sang Pencipta, tetaplah menebar kebaikan selama di bumi karena Dia menginnginkan itu dari setiap umatnya. Semangat terus ya kak, tulisan ini sangat menguatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Arda. Kebaikan sekecil apa pun akan kembali kepada kita, dengan atau tanpa kita sadari. Bahkan saat kita tidak berbuat baik apa-apa saja Tuhan tetap baik kan sama kita, begitu besar anugerah-Nya. Menguatkan lewat tulisan, semoga ada manfaatnya. Terima kasih.

      Delete
  13. Aku selalu percaya kebaikan itu menular, dan ajaibnya kembali lagi pada kita dengan cara yang tak terduga. Semangat menebar kebaikan !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Kak. Menular banget, makanya saya suka lihat teman-teman relawan yang memublikasikan foto atau video pas berbagi, jadi secara enggak langsung kita terpancing buat ikuti jejaknya. Mungkin diam-diam bantu tetangga atau teman dekat yang membutuhkan. Yang penting semangat!

      Delete
  14. Jadi inget pernah bikin kursus bahasa inggris gratis..zaman anak2 masih kecil ..hehe...sayang aja anak2 di sekitar rumah kurang semangat belajarnya... Dibukain perpustakaan juga ga pada datang...huhu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, salut Mbak Ida ternyata pernah juga bikin kursusan gratis ya. Problemnya memang minat anak sekitar, kadang ga sebesar yang kita harap atau bayangkan. Dulu juga sempat lesu sih, jumlah murid menurun drastis--jangan-jangan karena digratisin ya coz enggak ada ikatan, jadi enggak ada kerugian kalau berhenti. Semoga nanti bisa dibuka lagi ya Mbak, ini masih di Bandung, kan?

      Delete
  15. setuju banget kak, kebaikan itu menular khususnya untuk anak anak, meskipun tidak besar dan tindakannya sangat kecil, alangkah baiknya di perkenalkan sejak dini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa lagi yang bisa kita wariskan selain semangat berbuat baik kepada generasi penerus, ya kan Mas? Biar negeri makmur dan kesejahteraan merata.

      Delete
  16. Makanya senyum selalu disebut sebagai sedekah yang paling mudah ya, karena senyum juga menular, sama seperti kebaikan. Membaca kisah inspirasi ini semakin menguatkan bahwa kebaikan yang dilakukan sesungguhnya tabungan untuk diri sendiri. Melalui Dompet Dhuafa kebaikan bisa dilakukan dari dan di mana saja, dan tentunya tepat sasaran.
    Terima kasih untuk inspirasi kebaikan ini, mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Salma. Menebar kebaikan banyak banget bentuknya, bisa disesuaikan dengan kemampuan. Apa saja bisa asalkan serius diniatkan. Lewat Dompet Dhuafa berdonasi emang semakin mudah kok, bisa online dan sasarannya berbagai lapisan masyarakat yang membutuhkan.

      Delete
  17. Tetap sabar dan semangat pasti menjadi hikmah tersendiri pengalaman kakak ini. Yang penting tetap berbuat baik karena feedback yang didapatkan akan baik juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar dan semangat, itulah kuncinya, Mbak Fenni. Yakin selalu ada hikmah dari setiap perbuatan baik yang kita lakukan. Feedback seperti apa, biarkanlah menjadi rahasia Allah.

      Delete
  18. Saya selalu percaya bahwa kebaikan-kebaikan yang kita lakukan nantinya akan kembali kepada diri kita sendiri maupun anak cucu kita. Karenanya, jangan pernah lelah berbuat baik kepada siapa pun dan di mana pun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan lelah berbuat baik, tepat sekali Mbak Haeriah. Saya jadi teringat pada slogan Kelas Inspirasi Madiun November lalu: aja leren dadi wong apik yang berrarti jangan lelah jadi orang baik. Biarlah ada orang yang berkelakuan sebaliknya, tapi kita terus menebar kebaikan sesuai kemampuan. Biarlah Tuhan yang urus soal imbalan.

      Delete
  19. Pengalaman pribadi yg sangat menarik utk dibaca. Banyak hal yg bisa kita lakukan utk selalu bermanfaat kepada orang lain. Jangan pernah bosan utk terus berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mas Daniel. Banyak cara yang bisa kita tempuh, banyak jalan agar orang lain bisa tersentuh melalui kebaikan sederhana. Terima kasih sudah mengingatkan untuk tidak bosan berbagi. Salam dari Lamongan!

      Delete
  20. Alhamdulillah LAZ ternyata melunasi tunggakan sekolah anaknya Bu Karmina. Seperti itulah fungsi zakat meringankan beban orang yang kesusahan. Kisah lainnya tak kalah inspiratif Mas. terima kasih sudah berbagi kebaikan kepada sesama. Semoga Allah SWT membalas dengan kebaikan yang tidak disangka-sangka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Lina. Di luar dugaan banget. Kirain cuma bantu sedikit, ternyata malah dilunasi semua tunggakan sampe berjuta-juta. Terima kasih sudah mampir ya Mbak. Semoga kita istiqamah menebar kebaikan, minimal lewat tulisan inspiratif bagi pembaca. Untuk ditiru dan disebarkan lebih luas lagi.

      Delete
  21. Inspiratif sekali Kak. Banyak cara untuk mewariskan kebaikan. Ga boleh malas untuk memulai suatu kebaikan, pasti Allah akan balas dengan cara lebih baik nantinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul betul betul, jangan sampai malas berbuat baik karena banyak caranya, besar pula imbalannya--bahkan sering tak terduga. Salam!

      Delete
  22. Terharu banget saya bacanya. Kebaikan emang magic sih. Sesuatu yg abstract gitu, karna ketika kita berbuat baik, eh kebaikan kita mendatangkan banyak manfaat. Sungguh ajaib dan diluar logika.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Magic, itu salah satu kata yang bisa mewakili cara kerja kebaikan, Mas Kiky. Kita ga tahu bahwa perbuatan baik kkita ternyata membawa kita pada keajaiban di masa mendatang. Di luar logika, tentu saja, siap yang tahu? Semoga kita tak ragu menebar kebaikan untuk sesama.

      Delete
  23. Setuju banget kaaak kalau kebaikan itu menular sekecil apapun bentuknya, nggak akan ada yang sia2 dari berbuat kebaikan karena pada akhirnya selalu berbalik pada kita ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu balik ke kita, yap! Begitu juga dengan tindakan buruk atau zalim, pasti akan kembali kepada kita--ibarat gema!

      Delete
  24. Ini sebuah kisah yang merupakan bagian dari kisah lainnya tentang bagaimana membagi kebaikan. Sungguh sangat menginspirasi dan membuat semakin terpacu untuk selalu berbuat baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mas, atas kunjungan dan dukungannya. Semoga bermanfaat ya....

      Delete
  25. Kebaikan itu nular, kecil pun nular apalagi besar yah. thanks sharingnya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menular banget, Mbak. Kita rasakan atau enggak, perbuatan baik punya dampak yang positif buat kita.

      Delete
  26. Mas rudi panutanku...
    Selalu inspiratif...
    Memang ya mas, tidak akan pernah rugi bila menebar kebaikan..
    Melakukan kebaikan akan berbuah kebaikan...
    Apalagi sekarang menebar kebaikan makin mudah, ada Dompet Dhuafa yang siap membantu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Mbak! Terima kasih ya untuk dukungan dan semangatnya. Semoga kita ga lelah berbuat baik.

      Delete
  27. Aku pribadi setuju banget dengan fakta-fakta yang dipaparkan karena merasakan sendiri hidupku banyak terbantu dan terselamatkan dengan kebiasaan berbagi hal-hal kecil yang kadang-kadang tidak kita sadari. Dalam kondisi susah seperti ini, kadang "gatel" juga pengin berbagi dalam wujud yang lebih "nyata" , lebih besar. Tapi balik lagi kan, berbagi bisa dengan apa saja yang kita punya. Dan healing efeknya terasa banget di musim pandemi ini. Pikiran jadi lebih tenang dan optimis karena semua pasi berlalu asal kita bahu-membahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kan, Mbak udah ngerasain sendiri manfaat atau hikmah berbagi yang tak jarang ajaib banget. Saya pun gitu Mbak pengin banget pas masa krisis--apalagi Ramadhan begini--kasih bantuan dan donasi yang signifikan buat warga yang terdampak wabah karena ekonomi lagi lesu. Insyaallah ada saja jalannya kok Mbak buat bantu sesama. Yang penting semangat!

      Delete
  28. Ya Allah mata saya berkaca2 sejak membaca filosif hidup ala susuk hingga cerita bagaimana kebaikan bisa menyebar dan menular. Ini benar2 keajaiban yg tak kasat mata. Siapapun bs meraihnya dg cara berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak Rindang. Tiap orang punya filosofi hidup, tapi filosofi yang sederhana ya tentang keagiatan berbagi: bahasanya mudah dan caranya gampang.

      Delete
  29. uwah alhamdulillah yah mas. kalau sering membantu akan dibalas berkali-kali lipat oleh sang pencipta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau yakin, itulah yang akan terjadi. Saat butuh jalan keluar, selalu dimudahkan dari hal yang sukar. Begitu kita memerlukan solusi, Tuhan selalu kasih.

      Delete
  30. Kebaikan yang dilakukan sebesar biji zarrah pun pasti tetap akan mendapatkan balasannya. Tidak perlu menunggu kaya untuk melakukan kebaikan. Jika tidak ada uang, kebaikan juga bisa kita tebarkan lewat senyuman. Bisa jadi senyum yang kita berikan itu dapat memberikan energi positif bagi orang lain untuk menebar kebaikan juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul sekali, Mas Rizki! Tak perlu nunggu kaya atau berlimpah harta untuk menebar kebaikan. Banyak cara, banyak kesempatan, jadi jangan sia-siakan. Yang penting jangan lelah menebarkan energi positif agar hidup lebih dinamis dan berkah, insyaallah.

      Delete
  31. Membacanya serasa ikut juga di dlmnya �� bgmnapun dlm situasi yg sulit sngt susah ttp bsa berkomitmen dgn Pasangan, alhamdulillah dgn melakukan banyak kebaikan, kebaikan it akn kembali pada dri kt sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiin, semoga dikuatkan untuk selalu berbuat kebaikan sesuai kemampuan di saat apa pun. Terima kasih.

      Delete
  32. Tulisannya sungguh dalam ya kak, aku juga merasakan ketika melalukan hal kebaikan dan berbagi, seperti raga kita mereguk nikmat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih tepatnya nikmat tak ternilai ya, tak terkatakan di lisan sebab begitu istimewa balasan atau dampaknya :)

      Delete
  33. Terharu sekali bacanya. Jalan hidup yang luar biasa, juga dengan berbagai kejutan yang termyata berawal dari memberi. Semoga semangat selalu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Kak. Berbagi kisah sederhana, semoga ada manfaatnya. Tetap semangat, insyaallah!

      Delete
  34. Masyaallah, Kak. Ceritanya inspiratif sekali. Btw saya penasaran dengan web bahasa Inggris-nya. Oh ya, selamat buat semua hadiahnya, yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas dukungannya, Kak. Blog berbahasa Inggris bisa diakses di misterblangkon.com. Salam :)

      Delete