5 Alasan Mengapa Anak Tak Suka Membaca

Mengapa anak tak suka membaca? Ini pertanyaan penting yang sering diajukan orangtua. Pertanyaan itu muncul lantaran orangtua merasa sudah membelikan banyak buku untuk anak tetapi anak tak terlihat suka membacanya. Tak bisa dimungkiri punya anak  yang hobi membaca memang menyenangkan. Ini terbukti pada kedua anak kami, Duo Xi. Xi sulung mulai tertarik belajar membaca karena sewaktu di Bogor banyak buku bergambar sementara ia tak bisa membacanya. Akhirnya ia minta diajari membaca dan bisa baca bahkan sebelum masuk TK.

Xi bungsu menyusul jejak kakaknya. Tak mau ketinggalan, komik atau buku bergambar ia baca di waktu luang. Bahkan saat sedang makan pun ia sempatkan membaca buku. Apalagi jika buku yang ia baca sangat digemari, misalnya karena memiliki tokoh yang unik atau konyol. Kami membebaskan mereka sebab menyadari betul bahwa banyak sekali manfaat yang dipetik dari akvititas membaca. Bukan hanya menambah pengetahuan dan kosakata baru, membaca buku juga menjadi pengalaman berharga karena anak seolah berpetualang di dunia baru dan mendapatkan hal-hal asing dibanding jika dia sibuk bermain gawai atau gadget.


Masalahnya, mendorong anak agar suka membaca buku bukanlah persoalan mudah. Tak jarang orangtua kelimpungan mencari cara agar anak mereka ketagihan membaca dengan membelikan  buku-buku yang banyak. Saya terpikir bahwa beberapa hal berikut ini boleh jadi penyebab mengapa anak-anak kurang tergerak untuk menikmati bacaan.

1 | Tema tidak menarik

Setiap anak punya preferensi dan minat spesifik terhadap hal tertentu yang boleh jadi berbeda dengan anak lainnya. Anak yang tak mau membaca buku sangat mungkin karena tema atau isi buku belum menarik perhatiannya. Mungkin saja ia penggemar robot sehingga merasa tak menikmati bacaan berbau sains yang mengandung banyak istilah teknis yang membosankan. Boleh jadi ia penyuka dunia fantasi berbau petualangan sehingga akan enggan membaca komik biografi, misalnya. 

2 | Terlalu banyak teks

Anak-anak cenderung menikmati tampilan visual pada buku. Mereka mudah terpikat oleh hal-hal yang secara fisik tampak memukau apalagi dinamis. Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun sebenarnya demikian. Terbukti dengan merebaknya buku mewarnai yang kini digemari pembaca dewasa. Anak-anak menikmati buku dengan halaman-halaman berisi gambar atraktif dan berwarna-warni. Inilah alasannya buku untuk pembaca anak-anak sering disajikan dengan ilustrasi menawan yang membantu menghidupkan imajinasi mereka.

3 | Bahasa rumit

Jika anak belum suka membaca buku, coba periksa jangan-jangan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan materi terlalu rumit sehingga sulit mereka pahami. Menulis buku anak jelas bukan pekerjaan mudah. Pada beberapa kasus, buku anak-anak yang ditulis oleh orang dewasa tak jarang bersifat menggurui dengan bahasa yang jauh dari anak-anak. Kalimat-kalimat panjang dan pilihan kata yang kurang akrab bagi anak-anak adalah kendala yang jarang diperhatikan oleh penulis buku anak. Bahasa mudah dan lugas harus hadir dalam buku anak-anak apalagi untuk segmen pembaca belia.

4 | Butuh pendampingan

Anak-anak tertentu kadang merasa lebih nyaman dan menikmati proses membaca ketika ada orangtua atau orang dewasa yang turut mendampingi. Kehadiran orangtua di sisi mereka memberikan sugesti positif bahwa aktivitas mereka direstui. Lebih jauh lagi, mereka bisa bertanya apa saja saat menemukan kesulitan sekaligus mendapatkan kenyamanan karena ia merasa diperhatikan dan disayangi lewat pendampingan tersebut. Jadi tak ada salahnya untuk meluangkan waktu saat anak membaca buku.

5 | Perlunya model

Anak boleh saja lancar membaca dan punya kemampuan memadai untuk memahami berbagai jenis bacaan dengan mudah. Namun itu bukan jaminan ia akan keranjingan membaca selama ia tidak berada dalam lingkungan kondusif yang mendukung hobinya. Agak sulit membayangkan ia akan suka membaca jika orangtuanya lebih sering terlihat asyik mengakses ponsel pintar (smartphone) daripada menikmati bacaan, apalagi mendampingi si anak membaca. Cukup mustahil anak akan larut dalam bacaan jikalau orang dewasa di sekitarnya tampak enggan melakukan hal serupa.
Untuk kasus ini saya teringat pada keluarga besar Helvy Tiana Rosa. Abdurrahman Faiz yang piawai menggubah puisi adalah anak yang sangat suka membaca. Ia terpikat oleh bacaan karena melihat kedua orangtuanya yang tampak keren ke mana-mana membawa buku, terutama di lingkungan rumah. Pemandangan itu menimbulkan impresi positif berarti bagi Faiz sehingga ia mengikuti jejak kedua orangtuanya untuk suka membaca dan mencintai literasi.
Ternyata alasan mengapa anak tak suka membaca buku bisa dicari penyebabnya. Harus berhati-hati untuk melabeli anak pemalas atau bodoh hanya karena ia tak tergugah untuk membaca. Jangan cepat menghakimi anak tak doyan buku sebelum kita menelisik alasan kenapa mereka ogah membaca. Jangan-jangan kita sendiri hanya mengharap dan bermimpi mereka ketagihan membaca tanpa pernah terlibat dalam keasyikan yang sama.

Comments

  1. Menurutku penyertaan visual yang menarik di buku adalah yang paling disukai dan mudah disukai anak-anak.
    Rata-rata anak kecil selalu antusias melihat visual yang menurut mereka bagus dilhat, selanjutnya kita yang membantu mereka memberikan contoh cara membaca yang benar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, Mas. Anak-anak mengenal dunia terlebih dahulu melalui gambar dan penampilan visik. Jadi pukauan berasal dari visual yang harus didesain sedemikian rupa,

      Delete
  2. Model tentu sangat penting ya, Kangmas. Bagaimana mungkin kepengin anaknya suka membaca buku, tapi orang tua hari-harinya hanya HP mulu, hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, Mas. Harus sama-sama belajar dan mau berkorban kalau anak mau ikut suka membaca.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Life Beyond Expectation: Tentang Kebaikan Berbagi dan Cara Mewariskannya

Melejitkan Bisnis Penerbitan Dengan Virtual Office di Jakarta yang Menjanjikan

10 Alasan VivoBook S14 S433 Jadi Laptop Kawula Muda, Laptop Andalan Keluarga