Pages

Zlata's Diary, Perjuangan Anak Taklukkan Trauma Akibat Perang

Bagaimana rasanya tak ada air mengalir dari kran dan bahkan untuk sekadar menyiram kotoran selepas buang air besar? Ditambah listrik yang diputus makanan yang langka, kehidupan seperti mendekati neraka. Itulah yg terjadi pada keluarga Zlata Filipovic di Sarajevo, Bosnia.

Kalaupun ada air bersih, mereka harus mengantre panjang dengan risiko terkena peluru yang tak pernah berhenti berdesing. Makanan yang tersedia hanya dari bantuan kemanusiaan berupa keju feta putih tanpa rasa atau roti ala kadarnya yang sesekali bisa didapat dengan mengantre. Ada juga daging kaleng yang sesekali ada dan bisa dibeli di pasar gelap seharga 50 Deutsche Marks atau setara US$30.

Gadis 13 tahun ini dikenal dengan sebutan "Anne Frank dari Sarajevo" setelah bukunya "Zlata's Diary" diterbitkan oleh penerbit kecil atas inisiatif seorang guru dengan dukungan UNICEF. Zlata mulai menulis diari yang ia namakan Mimmy sejak September 1991.




Musim semi 1992 artileri Serbia mulai dipasang di perbukitan yang mengarah tepat ke atas rumahnya yang membuat keluarga tersebut memindahkan semuanya ke ruang depan karena terlindungi tumpukan karung. 

Zlata tak tahu apa itu pembersihan etnis, siapa Lord Owen, dan kenapa Bosnia harus dipecah-pecah. Yang dia tahu ia merindukan teman-temannya, salah satunya Nina yang tewas ditembus peluru di sebuah taman tempat mereka sering bermain. Ia pun membayangkan menyusuri jalanan kota tua Sarajevo dan bisa berhenti sejenak untuk memesan spaghetti dan pizza dengan topping lengkap.

Berbeda dengan teman-teman lain di Bosnia yang tinggal di rumah sakit atau panti dalam keadaan trauma mendalam, Zlata agak berbeda karena dia punya kebiasaan mencatat peristiwa dan mengabadikan pengalaman dalam bentuk diari. Ia melihat dunia di sekelilingnya dengan sudut pandang yang agak jauh, seolah-olah ia hanyalah pemeran dalam film yang ia tonton.

Seiring waktu berjalan, serangan Serbia rupanya kian menjadi-jadi dan bahkan menewaskan 5 anak saat sebuah TK dibombardir menjelang 1994. Saat itulah kesempatan mengungsi datang. Tanggal 23 Desember 1993 Zlata dan keluarga meninggalkan distrik Skenderija, diangkut dalam dua mobil lapis baja milik Perancis untuk diterbangkan ke Paris menggunakan pesawat PBB.

Zlata kini bermukim di Dublin, Irlandia dan membuat video dokumentasi tentang kisah kemanusiaan. Dia sudah tidak menulis diari sebab kenyataan yang ia lihat sudah melampaui perspektif yang bisa ia bayangkan.

actioner

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram