Sunday, August 9, 2020

Berbagai Keuntungan Kurban di Rumah Potong Hewan (RPH)

Potong hewan kurban di RPH? Kenapa tidak? Itulah yang NBC lakukan akhir Juli silam. Walau dilanda wabah, kurban Iduladha harus tetap terlaksana. Pelaksanaan kurban malah semakin urgen di tengah pandemi sebab banyak orang terdampak yang sangat membutuhkan. Para pengayuh becak, pengojek, pemulung, dan janda miskin tetap jadi sasaran yang akan menerima daging.  

Keuntungan berkurban bersama RPH


NBC (Nasi Bungkus Community) sebuah komunitas berbagi di kota Lamongan menggelar pemotongan kurban hari Jumat tanggal 31 Juli 2020. Uniknya komunitas yang saya ikuti ini memercayakan penyembelihan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH). Tahun ini cukup istimewa karena berbeda dari tahun sebelumnya ketika NBC hanya menitipkan pemotongan di sana lalu daging dibawa ke basecamp di Jl. Kusumabangsa 25A untuk dipotong lebih kecil dan ditimbang sesuai kebutuhan.


Tahun ini selain penyembelihan sapi, daging langsung disiapkan di lokasi RPH. Di depan gedung RPH terdapak lapak luas yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah daging hingga siap dikemas. RPH yang terletak di Jl. Pahlawan tak jauh dari pasar induk Lamongan ini memiliki tim yang solid. Banyak keuntungan yang bisa disebutkan dengan menyiapkan daging langsung di lokasi RPH alih-alih di basecamp seperti tahun-tahun sebelumnya.

Halaman depan basecamp NBC sangat mungil sehingga tidak memungkinkan relawan bergerak bebas dalam mengelola daging. Keputusan memotong hewan kuban dan menyiapkan paket daging di sana terbilang tepat dan bahkan taktis. Beberapa manfaat berikut perlu dicatat untuk bisa ditiru pada kesempatan mendatang.

Keuntungan pertama, praktis dan mudah. Tak seorang pun dari kami para sukarelawan merupakan tenaga ahli dalam penanganan hewan sembelihan seperti kurban. Sebut saja pemisahan daging dari tulang yang jelas membutuhkan keterampilan khusus. Jika ditangani oleh tenaga amatir, bisa-bisa daging malah rusak dan tak banyak yang bisa dibagikan untuk para penerima kupon nantinya.

Cepat dan serbamudah

“Mas Rudi ketiban sampur, jadi ketua panitia kurban ya,” ujar Mbak Pipit sekretaris NBC Jumat pagi sepekan sebelum kurban dilaksanakan. Saya kaget karena saat rapat sepekan sebelumnya saya tak hadir lantaran tak enak badan. Syukurlah semua berjalan lancar.

Jam 7 pagi saya dan istri segera bergerak ke RPH. Sebelumnya kami mampir ke rumah Mas Agus yang kebagian tugas mengurus perlengkapan. Mas Agus dan istri rupanya sudah berangkat. Alhamdulillah banner yang desainnya saya kirim sehari sebelumnya sudah beres dicetak. Begitu kami susul ke RPH, mereka ternyata belum ada di lokasi.


Beberapa menit kemudian, mereka muncul. “Dari basecamp ambil ini,” jawab Mas Agus sambil menunjuk banner bekas tahun lalu dan talenan. Banner bekas akan kami pakai sebagai alas pemotongan. Tak lama berselang Mbak Pipit datang membawa printout berisi nama-nama pekurban. Tanpa jeda lagi, saya segera menemui tim RPH yang dikepalai drh. Rendra agar memulai penyembelihan.

Ada dua ekor sapi yang NBC titipkan untuk disembelih di RPH tahun ini. Mulai jam 7.30 sapi pertama dan kedua segera dipotong. Seperti biasa saya harus mengabadikan prosesi dalam bentuk video untuk dilaporkan kepada donatur. Sejak sapi dipindah dari kandang menuju tempat penyembelihan, hingga proses pengolahan daging semua terdokumentasi. Sebelum sapi disembelih, tak lupa dibacakan doa dan iringan takbir bersama.


Hanya tiga jam

Sapi pertama selesaai disembelih, lalu segera dikuliti. Cara kerja tim RPH sangat cepat. Tak heran jika sukarelawan NBC sangat dimudahkan. Mbak Yenny yang datang bersama kedua putrinya sudah sedari tadi menyiapkan besek bambu. Dibantu Mbak Yuli, Mbak Atik, Mbak Yogi dan tiga karyawan Mbak Pipit, pekerjaan demi pekerjaan pun terselesaikan. Besek bambu dialasi daun pisang agar lebih higienis.

Khusus Mbak Atik bendahara NBC sigap menata timbangan dan memroses daging yang telah siap. Daging, jeroan, dan tulang iga berpindah ke tangan kami dari tim RPH secara bergiliran. Bentuknya lebih kompak sehingga mudah dikelola. Begitu daging masuk, kami langsung potong dan timbang. Begitu seterusnya.


Pak Anang Purwo selaku pembina NBC lalu datang—lengkap dengan seragam polisi. “Di Jl. Sunan Drajat sini, Pak,” ujarnya ketika saya tanya baru bertugas di mana. Sehari-hari beliau berdinas sebagai KBO Satlantas Polres Lamongan. Kedatangan beliau untuk memastikan semuanya siap dan terlaksana dengan baik. Juga berkoordinasi dengan RPH jika ada yang belum sesuai. Syukurlah dukungan aktif RPH sangat membantu kami.

Jam 10.30 atau tiga jam sejak 7.30 dua ekor sapi sudah beralih rupa ke potongan kecil dalam 250 besek bambu. Suami Mbak Atik datang membawa mobil bak terbuka untuk mengangkut paket daging ke basecamp NBC. Pembagian direncanakan jam 1 siang selepas Jumatan. Sebagian paket sudah dikirimkan secara bertahap menggunakan motor kepada penerima dan pekurban.

Higienis dan ekonomis

“Dagingnya beda ya, bersih!” komentar ibu saat kami buka besek yang akan diberikan kepada pembantu beliau yang seorang janda. Wajarlah karena penyembelihan bagus sehingga darah sempurna dialirkan. Di bawah pantauan dokter hewan dan asisten RPH, sapi juga dipastikan steril dari penyakit atau stres. Darah tak menetes menembus besek juga berkat alas daun pisang.


“Dulu pernah ada insiden cingur sapi berdarah karena dipaksa jalan,” cerita Bu Heny ketua NBC saat kami menunggu penerima kupon berdatangan di basecamp. Wajahnya tampak sedih.

Bukan cuma higienitas dan kecepatan, penanganan hewan kurban oleh RPH juga relatif terjangkau. “Dulu pernah kami pasrahkan ke orang lain. Tapi setelah sapi disembelih, kami masih harus cari tenaga lagi untuk menguliti dan memisahkan daging. Lebih repot dan malah mahal,” kenang Pak Anang tentang pengalaman kurban NBC beberapa tahun sebelumnya.


Selepas Jumatan para penerima kupon berdatangan ke basecamp untuk menjemput daging dalam besek. Jl. Kusumabangsa 25A cukup ramai siang itu tapi tetap terkendali karena semua mengikuti protokol kesehatan. Silih berganti datang, semua tertib berjalan. Pembagian daging lancar dan selesai sebelum Asar. Beberapa pengayuh becak datang tanpa kupon. Mereka juga kami beri besek karena paket daging sengaja kami lebihkan.

Tak ada makan bersama


Yang bikin sedih tahun ini acara makan bersama terpaksa kami tiadakan. Setiap tahun kami mengundang anak-anak yatim untuk menyantap sate dan gule di markas. Biasanya ada 40-anak dari dua panti. Para pemulung dan tukang becak juga datang ikut makan. Lumayan kan, tak perlu repot masak. Hemat bumbu dan gas.

Karena sedang didera pandemi, NBC memutuskan mengirimkan sup daging matang ke beberapa panti asuhan. Tak cuma itu, makanan matang dalam besek juga dikirimkan ke desa-desa sesuai pantauan relawan. Jadi momen kegembiraan bukan hanya dibagikan pada saat Ramadan.

Tetap kurban eco-friendly


Hingga tahun ketiga NBC terus mengupayakan kurban eco-friendly atau ramah lingkungan salah satunya dengan menggunakan besek anyaman bambu untuk mengemas daging. Paket daging dibagikan begitu saja tanpa dibungkus lagi dengan plastik kresek seperti umumnya. Ini andil kecil kami untuk mengurangi sampah yang sulit diurai di Bumi. Kami juga menyisipkan selembar daun pisang sebagai alas di dasar besek.

Besek bambu selama ini kami datangkan jauh-jauh dari Blitar sebab harganya relatif terjangkau. Besar harapan kami langkah sederhana kecil ini juga akan diikuti oleh komunitas lain dalam upaya pelestarian lingkungan. Tak bisa menghilangkan sama sekali, setidaknya mengurangi sampah plastik.

Reportase di media

Menurut penuturan Pak Anang saat pembagian daging di basecamp, RPH Lamongan sangat berterima kasih karena langkah NBC menyembelihkan hewan kurban di sana diikuti oleh komunitas lain. Masjid Al-Azhar Lamongan, misalnya, ikut mengirimkan 6 ekor sapi untuk disembelih di RPH. Lalu ada Yayasan Al-Kahfi yang juga tampak menguliti hewan kurban di lokasi. Wah, hari itu serasa guyub karena fasilitas pemda kami berdayakan.


Kegembiraan lainnya adalah karena reportase kegiatan yang saya tulis berhasil dimuat di Harian Surya pada rubrik Citizen Reporter edisi Jumat 7 Agustus 2020. Tahun lalu kegiatan kurban kami juga dimuat di media yang sama, pada bulan Agustus 2019. Publikasi seperti ini tentu bukan tujuan utama kami, tetapi lebih untuk mendorong agar komunitas lain ikut melakukan kebaikan yang sama atau bahkan lebih baik. Itulah esensi berkomunitas yang sesungguhnya, ketikafmonga komunitas lain bisa terinspirasi sebab kami sadar bahwa NBC kecil dan tak mungkin menjangkau semua wilayah.

Manfaatkan RPH

Singkat kata, memotong hewan kurban di RPH sungguh memudahkan dan menguntungkan, apalagi bagi komunitas yang ingin cepat menyiapkan dan membagikan dagingnya. Yang tak kalah penting, memotong kurban di RPH juga berpotensi menambah kas pendapatan asli daerah agar bisa dimanfaatkan lagi untuk pembangunan setempat. Tentu bukan cuma hewan kurban, ternak lain untuk hajatan misalnya juga bisa disembelih di RPH setempat.

Itulah sekelumit cerita kami komunitas kecil di kota yang juga kecil. Semoga tahun depan jumlah hewan kurban semakin bertambah agar lebih banyak yang bisa dibagikan. Makin banyak keluarga yang terlibat. Insyaallah masih setia dengan RPH karena menyembelih kurban di Rumah Potong Hewan punya banyak keuntungan. 

Wednesday, December 11, 2019

Johari Zein, Sosok Fenomenal di Bidang Logistik, Luncurkan Program Indonesia Berseri

Johari Zein yang dikenal sukses berkiprah di dunia bisnis jasa logistik benar-benar sosok yang inspiratif. Selain punya insting bisnis yang kuat, dia ternyata memiliki jiwa filantropis yang layak diteladani. Ini dibuktikan dengan diluncurkannya Program Indonesia Bersedekah Jariah atau disingkat Indonesia Berseri pada 17 Oktober 2019 di Jakarta. Salah satu konsentrasinya adalah program pembangunan, pengembangan, dan pemakmuran 99 masjid di delapan penjuru dunia yang diinisiasi oleh Johari Zein Foundation. 

Apa itu Johari Zein Foundation? Tak lain adalan lembaga filantropi yang didirikan oleh Johari yang bercita-cita menjadi wasilah demi terwujudnya umat yang bertakwa melalui pembangunan 99 masjid di 8 penjuru dunia. Digunakannya angka 99 merupakan simbol kesempurnaan sebagaimana tecermin dalam Asmaul Husna yang berjumlah sama. 

Muhammad Nuh selaku Ketua Badan Wakaf Indonesia mengapresiasi inisiatif Johari Zein Foundation.

Saat membuka acara gathering Paxel awal tahun 2019, Johari menegaskannya komitmennya untuk membantu sesama lewat tindakan kebaikan sekecil apa pun. Dan sudah semestinya kita mempraktikannya pula. Paxel yakni layanan antar sehari sampai merupakan wujud nyata bagaimana ia ingin membantu agar para pelaku UKM dan UMKM bisa berdaya melalui penjualan yang cepat dan praktis.

Itulah sebabnya para kurir di Paxel disebut happiness hero karena mereka semua bertugas atau mendapat amanah untuk mengantarkan kebaikan, bukan paket fisik belaka yang bernilai transaksional. Harus ada simbiosis mutualisme untuk bisa saling menopang agar maju dan berkembang.

Lewat Indonesia Berseri, Johari percaya bahwa bangsa Indonesia yang beriman akan mampu bergerak maju. Melalui masjid, umat akan meningkat keimanannya serta kondisi ekonominya lantaran senantiasa berada dalam lindungan Allah.

Menemukan Islam

“Saya lahir tahun 1954 di Medan dari keluarga pedagang sederhana, WNI Tionghoa, dalam lingkungan keluarga Budha namun di sekolahkan pada sekolah-sekolah Katolik sampai SMA. Alhamdulillah dalam perjalanan hidup saya, saya menemukan Islam sebagai agama saya. saya mualaf di tahun 1982, dan sejak saat itu, Al-Quran sebagai petunjuk hidup saya,” ujar Johari Zein dalam sambutannya pada peluncuran Program Indonesia Berseri di Jakarta Oktober lalu.

Pada usia ke 65 tahun, Johari telah mendedikasikan waktunya untuk membangun perusahaan logistik seperti JNE atau Jalur Nugraha Ekakurir yang kini melesat sebagai pemimpin ekspedisi. JNE sangat layak disebut sebagai perusahaan logistik yang berhasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Banyak ilmu dan pengalaman spiritual

Johari mengaku sangat menikmati kiprahnya saat membangun dan mengelola JNE. “Alhamdulillah, sampai hari ini, JNE mampu bertahan sebagai market leader di bidang logistik di Indonesia. Saya menikmati perjalanan saya dengan JNE karena saya banyak mendapat ilmu dan pengalaman, selain uang yang cukup, saya bertemu dengan guru spiritual yang istimewa, bapak almarhum H. Soeprapto, dermawan dan entrepreneur luar biasa,” lanjut Djohari.

Pengalaman spiritual seperti itulah yang menginspirasi Johari untuk membentuk Johari Zein Foundation. Dari 99 masjid, kini Johari Zein Foundation telah membangun sebuah masjid di Lombok Utara yakni Masjid Zeinurrahim di desa Medana. Ibarat orang bertawaf, Johari Zein Foundation agar terus membangun masjid dari tempat ke tempat lainnya.

Perlunya fungsi pendidikan

Dalam kesempatan yang sama juga hadir Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Muhammad Nuh yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Nuh menuturkan bahwa ia mengapresiasi cita-cita yang diinisiasi oleh Johari Zein Foundation. Lebih lanjut ia menegaksn bahwa masjid yang akan dibangun nanti hendaknya punya empat fungsi masjid, yaitu fungsi peribadatan, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Ini tentu selarasa dengan domain kepakaran yang dimiliki Johari Zein.

"Bukan sekedar membangun masjid biasa, tapi sebagai fungsi peradaban, minimal ada fungsi pendidikan, paling tidak ada PAUD, dan TPQ sehingga anak kecil sudah biasa mengenal Alquran," tutur Muhammad Nuh.

Seniman Dik Doank turut mendukung program Indonesia Berseri dan RBM.

Demi memuluskan terlaksananya Program Indonesia Berseri, Johari Zein Foundation membentuk komunitas Relawan Bangun Masjid (RBM) yang akan berperan untuk menghimpun, menyebarkan, dan mendukung program pembangunan peradaban manusia yang unggul dengan landasan akhlak mulia lewat masjid. RBM boleh dibilang adalah anak dari Program Indonesia Berseri Johari Zein Foundation.

Peluncurah Indonesia Berseri dan deklarasi RBM juga diramaikan oleh sejumlah tokoh nasional, antara lain seniman unik Dik Doank, Anggota Dewan Syariah Nasional MUI Kyai Cholil Nafis, Adiwarman Karim praktisi ekonomi Syariah, dan tentu saja Muhammad Nuh. Semoga kemajuan bangsa bisa diwujudkan melalui sumbangsih kecil yang digagas oleh Johari Zein Foundation.