Thursday, June 3, 2021

Hanjeli dan Kopi, Komoditas Alami Tingkatkan Kesejahteraan Petani

MENYEBUT SUMEDANG, sebagian besar kita mungkin segera membayangkan tahu lembut yang gurih setelah digoreng dan dimakan. Sebuah produsen tahu susu bakso yang cukup kondang di Jogja pun mengaku belajar soal pembuatan tahu yang bagus dari pembuat tahu di Sumedang. Namun mungkin tak banyak yang tahu bahwa kota asal ubi madu Cilembu ini juga punya potensi lokal yang bernilai tinggi yakni hanjeli (Coix lacryma-jobi).

Namanya boleh jadi masih terdengar asing di telinga kita karena tanaman ini belum banya dikembangkan sebagai komoditas lokal yang bisa dijual. Saat disebutkan, hanjeli malah mungkin mengingatkan pada salah satu protagonis dalam film India Kuch Kuch Kota Hai yang menuai sukses besar belasan tahun silam. Itu dulu, sebelum hanjeli diketahui punya potensi profit. Kini di Kecamatan Wado, Sumedang, hanjeli mulai diburu orang karena menjanjikan keuntungan.

Pengganti beras yang naik kelas

Adalah Koperasi Warga Tani (KWT) Pantastik di Desa Sukajadi Kabupaten Sumedang yang mengajak para petani setempat untuk mau bertani dan mengolah hasil tanaman hanjeli atau jelai atau enjelai. Hanjeli diketahui memiliki kandungan karbohidrat sebesar 76,4%, sedangkan beras sebesar 87.7%. Fakta ini menegaskan bahwa hanjeli bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bahan pangan pokok seperti beras yang selama ini kita andalkan.

Indonesia sebenarnya kaya dengan sumber karbohidrat yang mungkin tak dimiliki negara lain. Sebut saja sagu, ganyong, gembili, sukun, porang, hingga jelai atau hanjeli. Selain memetik banyak khasiat antara lain mengontrol kadar gula, menetralkan radikal bebas, mempercepat proses penyembuhan luka, dan menurunkan berat badan, dengan mengonsumsi jelai berarti turut menjaga keragaman bahan pangan lokal kita. 

Dengan tekstur kenyal dan rasa seperti kacang, jelai memang mirip gandum yang banyak mengandung nutrisi sehingga disebut-sebut mampu menurunkan kadar kolesterol serta menyehatkan jantung. Tak heran dengan potensi manfaat sebanyak itu, sejak 2019 Dompet Dhuafa menjalin kerja sama dengan KWT Pantastik Desa Sukajadi dengan program bertajuk “Program Pengembangan Usaha Tanaman Pangan Lokal Hanjeli” di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang.

Pengolahan hanjeli atau jelai menjadi aneka produk siap santap yang bergizi.

Para petani mengolah hanjeli atau jali-jali menjadi beragam produk seperti nasi (pengganti beras), tepung, opak, kerupuk, teng-teng, rengginang, sereal, brownies, dan aneka cookies atau kue basah lainnya. Singkat kata, potensi ekonomi jelai sangat menjanjikan jika digarap dengan serius untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pemberdayaan lewat zakat

Bisa dibilang hanjeli adalah pengganti beras yang sedang naik kelas, karena mudah ditanam dengan potensi yang sangat menjanjikan. Pengembangan hanjeli atau jelai di Wado Sumedang adalah wujud nyata betapa dana zakat bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat. Dompet Dhuafa bukan hanya menyalurkan dana zakat, tetapi juga menyediakan pendampingan bagi KWT Pantastik, mulai dari memfasilitasi pelatihan olahan hanjeli, proses produksi, distribusi hingga pemasaran.

Pohon jelai (kiri) dan olahan jelai berbentuk bubur siap santap (kiri) [Foto: dompetdhuafa.org]

Biji jelai lebih kecil dibanding bulir beras, akan tetapi saat diolah rasanya menyerupai nasi. Jelai atau hanjeli lebih dahulu dikenal pada masyarakat Dayak yang mengolahnya menjadi nasi jelai, bubur, dan kue. Dengan dukungan budidaya, produksi, dan pemasaran yang memadai, kita optimistis potensi lokal ini mampu menyejahterakan petani.

Salah satunya Ibu Jojoh, petani binaan KWT Pantastik, yang berharap bisa meraup tambahan penghasilan sebagai berkal berangkat ke Tanah Suci. Melihat obsesi Bu Jojoh, kita bisa menyimpulkan betapa hanjeli membawa harapan baru bagi petani yang mungkin selama ini jauh dari kata sejahtera. Jelai atau hanjeli menjadi bibit kemakmuran yang bisa mereka panen kelak.

Bu Jojoh bermimpi bisa pergi haji berkat panen jelai atau hanjeli.

Bergeliatnya pasar hanjeli atau jelai atau jali-jali di Sumedang boleh jadi fenomena gunung es yang hanya menunjukkan bagian kecil saja. Para ahli bahkan menyebut Nusantara sebagai kawasan mega diversity karena Indonesia memiliki potensi lokal yang sangat kaya dan berlimpah sehingga tugas kita mengolah dan mengembangkannya secara produktif. Sentuhan zakat di Wado Sumedang terbukti mampu menyulap potensi lokal menjadi bisnis agroindustri yang mendatangkan keuntungan finansial demi mewujudkan kesejahteraan para mustahik.

Tukang angkut batu jadi petani kopi

Potensi lokal yang tak kalah fenomenal adalah kopi. Ya, siapa yang tak kenal biji ajaib ini. Kita tentu tak menampik adanya fakta bahwa sebuah ritel kopi raksa menguasai pangsa pasar yang besar di seluruh dunia. Kedai dan warung kopi terus bermunculan di berbagai sudut kota di Indonesia. Kopi tubruk atau kopi susu, sama-sama menjanjikan keuntungan yang nyata. Apalagi fenomena kehidupan serbadigital saat ini mendorong orang bekerja mobile di kafe-kafe yang kian membuat kopi menemukan momentum menjadi industri yang gurih ditekuni.

Di antara pelaku usaha itu, ada seorang petani bernama Samsinar. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengangkut batu dan kayu bakar sementara sang suami berprofesi sebagai pedagang ayam. Demi memperbaiki kondisi ekonomi, pada tahun 2014 mereka pun memutuskan menjadi petani kopi. Langkah mereka rupanya tak mulus begitu saja. Mereka harus rela dicemooh oleh tetangga dan warga sekitar lantaran dianggap terlalu nekat membuka lahan seluas seperempat hektar untuk ditanami kopi.

"Hidup saja masih seperti itu (susah) tapi berani buka ladang kopi seluas itu. Pasti tidak akan sanggup." 

Namun Samsinar dan keluarga menanggapinya dengan berdoa agar usahanya berhasil sehingga akan ditiru oleh orang-orang di sekitar. Ia setulusnya berharap agar warga setempat yang hidupnya dulu susah menjadi sejahtera berkat tanaman kopi yang akan mereka tanam.  

Begitulah, ia dan suaminya terus giat menggarap lahan dan merawat kopi mereka di Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat yang memang memiliki menyimpan potensi alam berlimpah. Salah satunya kopi Arabica Solok yang ternyata mampu menjadi komoditas unggulan dengan peminat yang selalu mengincarnya. Ia dan suami bertekad untuk menangkap peluang itu dengan terus mengembangkan usaha meskipun belum banyak masyarakat sekitar akan potensi tersebut.

Gayung pun bersambut ketika tahun 2019 Dompet Dhuafa dengan dukungan penuh dari para donatur menggulirkan program pemberdayaan untuk Kelompok Tani Sirubuih Indah Nan Jaya yang beranggotakan 25 orang. Samsinar dan suaminya beruntung menjadi salah satu penerima manfaat program tersebut. Fasilitas yang diberikan mulai dari penyediaan bibit kopi hingga tempat pengolahan pascapanen. Para petani yang tergabung juga mendapat pendampingan, pembinaan, pemasaran, hingga pengolahan limbah menjadi pupuk kompos.

30 ton kopi per bulan untuk dieskpor

Buah kerja keras mereka pun terbayar dengan kegembiraan luar biasa. Lahan yaang dikelola Samsinar kini mencapai 2,5 hektar yang semula hanya 0,25 hektar. Dengan total 2.500 batang kopi, setiap 15 hari mereka mampu memanen rata-rata 200-300 kg. Untuk pemasaran, mereka tak perlu risau sebab Pasar Koperasi Solok Radjo bisa menampung sekitar 30 ton per bulan untuk diekspor ke sejumlah negara asing seperti Jepang, Amerika, dan Thailand.

Dari Samsinar dan Bu Jojoh kita belajar tentang arti impian dan keuletan. Setiap pilihan mengandung pilihan, termasuk dicemooh orang yang belum bisa membaca peluang. Kisah mereka juga menunjukkan pentingnya optimisme, bahwa dana zakat yang terkumpul bisa dikelola dan didistribusikan untuk memberdayakan masyarakat. 

Zakat bukan melulu menjadi dana yang habis sekali pakai, tetapi menjadi modal produktif untuk membantu program pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Sebagaimana telah terbukti di Wado Sumedang dan Nagari Sirukam, zakat bisa mendorong peningkatan ekonomi khazanah lokal menjadi produk yang menguntungkan sehingga kebahagiaan bisa menular lewat manfaat luas baik bagi muzakki maupun mustahik.

Nah, sobat doers, sekarang kalau mendengar lagu "Si Jali-jali" khas Betawi, jangan cuma ingat kerak telor ya. Jangan lupakan jelai atau hanjeli yang kaya manfaat dan potensi ekonomi sebagaimana disebutkan dalam lagu bahwa jali-jali memang enak sekali, bisa bikin senang hati. Apalagi ditambah secangkir kopi, aduhai sedap sekali.