Saturday, January 23, 2021

Yang Ingin Diperbaiki Tahun 2021 aka Semacam Resolusi

Bulan Januari sudah memasuki pekan ketiga. 2021 sudah hampir menuntaskan satu bulan. Saya belum tergoda menyusun resolusi karena ya entahlah setiap resolusi kadang menjadi daftar belaka tanpa memberi kekuatan yang bermakna. Akhirnya ya inilah beberapa hal yang ingin saya perbaiki pada tahun 2021, dengan harapan bisa lebih baik dan bermutu dibanding saat tahun sebelumnya. 

Saya tak menyebut resolusi, hanya semacam resolusi, sebab hal-hal ini sudah ada pada tahun 2020 silam dan ingin saya tingkatkan, ingin saya perbaiki agar kualitasnya menyentuh batas kepuasan. Bukan meluluu dari kuantitas tetapi juga kualitas. Apa saja yang itu?



1 | Shalat lima waktu

Shalat menempati urutan teratas karena ini menurut saya lini yang cukup parah. Selama tahun 2020 akibat pandemi hanya nyaris tak berjemaah di masjid. Sebaliknya, kami shalat di rumah dan biasanya malah malas berjemaah. Inilah PR saya tahun ini, memperbaiki frekuensi jemaah dan meningkatkan kekhusyukan, tidak terburu-buru atau shalat sekadar menggugurkan kewajiban.

2 | Active & Mindful Blogging

Saya ingin lebih aktif melakukan update tulisan untuk beberapa blog yang selama ini saya kelola. Bukan hanya blog utama, tapi juga blog sekunder dan terutama blog komunitas. Dengan demikian saya mesti memperbaiki manajemen waktu sehingga tidak kewalahan, lebih-lebih membagi waktu untuk menulis artikel lomba. Dan yang paling penting, blogging harus mindful, harus purposeful, ada tujuan dan maksud yang jelas. Sebisa mungkin punya impact positif atau manfaat buat pembaca.

3 | Valuable contest

Saya ingin lebih selektif mengikuti lomba blog atau lomba menulis apa saja. Kalau bisa sih kuantitas meningkat tapi tetap selektif sesuai preferensi dan prinsip pribadi. Jangan sampai asal hantam, asal ikut karena hadiahnya besar atau menggiurkan. Sudah saatnya ikut lomba karena saya paham temanya dan benar-benar mendukung produk atau jasa yang dilombakan. 

Nah, jelas itu bukan lantaran gebyah uyah, ikut apa saja bahkan untuk penyelenggara yang melanggar aturan formal dan mengorbankan kemaslahatan umat. Pengin meraih keuntungan sih tak masalah, tapi ada batasan dan aturan yang harus dijaga. Enggak sembarang ikut-ikutan karena banyak yang membidiknya.

4 | Better Father

Saya merasa belum bisa mendampingi anak-anak dengan baik. Masih terpancing untuk marah, gampang emosional bahkan terhadap hal kecil yang tak saya tahan. Jelas saya belum bisa sabar, belum bisa legowo dan menerima kenyataan saya sebagai seorang ayah. Hanya membanggakan prestasi atau keterampilan anak tanpa mau menerima sisi negatif yang belum sinkron dengan jiwa saya. saya menghendaki hal ideal tapi tak berupaya melakukan perbaikan secara optimal. Itu PR besar, terutama memberikan reward yang sepadan buat duo Xi.

5 | More and deeper gratitude

Tahun 2020 terlalu banyak hal yang membuat saya marah. Rasanya apa saja terasa enggak benar di mata saya. Kenytaan terlalu pahit untuk saya anggap sebagai berkah. Tetangga enggak benar, teman enggak becus, komunitas tidak keruan, masyarakat kacau, dan tata pemerintahan yang acakadut. Lebih-lebih pandemi yang belum usai sampai saat ini. 

Semua membuat tingkat stres semakin tinggi. Beban semakin menekan hati. Maka PR tahun ini adalah berusaha bagaimana lebih bisa melihat peluang atau sisi positif suatu hal. Tidak gampang terpancing isu atau keadaan yang tidak enak. Tidak mudah terbuai oleh pesona-pesona palsu yang sebenarnya tidak ada manfaatnya. Trivial, tidak substansial.

Harus lebih banyak yang disyukuri. Dan yang sudah disyukuri, maka rasa syukurnya mesti diperdalam, ditambah dengan perbuatan follow-up yang lebih berarti. Tak sekadar ucapan syukur tapi ada tindakan nyata yang mencerminkan kerelaan hati berbagi dan bersyukur.

Hanya 5 tapi tak mudah

Hanya lima daftar tapi sulitnya bukan main. Terbayang kerja keras yang harus saya tingkatkan. Sudah tampak bayangan untuk mengerahkan segala potensi agar memenuhi ekspektasi. Banyak belajar, banyak berjejaring, banyak berdoa dan pasrah kepada Tuhan. 

Apa arti resolusi kalau tidak diimbangi dengan semangat belajar dan memperbaiki diri? Apa artinya tekad kalau tidak diikuti dengan keberanian untuk mengambil risiko, termasuk jika harus dibenci orang atau menjadi public enemy. Apakah relevansi resolusi bila tak ada gairah untuk lebih produktif.

Bagaiman dengan sobat doers? Adakah yang ingin dicapai tahun ini? Silakan bagikan di kolom komentar. Siapa tahu ingin meraup kesuksesan di dunia digital jadi bisa saling bersinergi dan mendoakan.


Monday, December 28, 2020

Perlukah Menyusun Resolusi?

Tahun 2020 akan berkahir dan tahun 2021 segera kita jelang. Seolah menjadi ritual tahunan, banyak orang yang tergoda untuk membuat resolusi tahun baru. Apakah penting menyusun resolusi? Apakah aneh jika kita tak membuat resolusi apa pun? Perlukah pertanyaan ini kita jawab? Kalaupun bisa menemukan jawaban, apakah jawaban itu berkorelasi positif terhadap pencapaian hal-hal yang kita catat dalam daftar resolusi?

Sungguh menantang memang memang sebab kita berada dalam kondisi pandemi yang tak kunjung terhenti. Korban berjatuhan setiap hari, pasien di rumah sakit membludak, sarana kesehatan nyaris lumpuh sementara warga seolah tak peduli atau sengaja abai dengan berbagai alasan, salah satunya mencari penghidupan. Ya memang tak bisa disalahkan karena rezeki memang penting tapi mengabaikan protokol kesehatan juga tak bissa dibenarkan.

Hidup kadang mirip naik bianglala; naik turun tak terduga tapi bisa kita siapkan semangatnya.

Jangan menyerah, tetap semangat!

Menyusun resolusi jadi hal yang tricky. Membuat serangkaian hal yang ingin kita capai mungkin mudah tapi bagaimana dengan realisasinya? Kondisi serbatak menentu sekarang membuat kita gamang. Namun punya resolusi atau tidak, yang penting adalah niat dan komitmen untuk berkembang, untuk mencapai kemajuan dalam setiap gerak. Jangan pesimistis menghadapi keadaan sebab tak ada hal yang langgeng seperti ini, termasuk musibah yang kita hadapi.

Betapapun berat, saya sendiri ingin menyemangati diri sendiri karena akhir tahun begitu banyak ujian. Apa boleh dikata, kita hanya manusia yang harus menjalani garis nasib. Namun sekali lagi, jangan pernah menyerah sebab kita bisa berusaha, memulihkan keadaan dan memperbaiki takdir dengan doa dan tawakkal. Mengubah nasib dengan kerja keras dan amal kebajikan di mana saja, kapan pun juga.

Ibarat menaiki bianglala, kondisi bisa berubah kapan saja; naik turun tapi bisa kita antisipasi. Semangat dan antusiasme jangan dilupakan. Apakah sobat doers sudah membuat resolusi? 

Sunday, October 11, 2020

Jurus Produktif Meraup Rezeki di Tengah Pandemi

   

“Terharu banget … ada kenalan yang ternyata udah ga punya makanan sama sekali. Duit apalagi. Udah dari kapan makannya bihun digoreng gitu aja, pakein kecap.

Begitulah cuitan Mbak Nunik, teman sesama bloger yang juga penulis saat mengomentari program Canthelan yang saya unggah dalam utas di Twitter akhir September lalu. Ia merasa prihatin setelah mendengar kenalan yang sudah seperti keluarga sendiri tapi tak bisa makan nasi selama beberapa hari. Di rumahnya ia masih bisa makan teratur padahal jarak rumah mereka hanya sekitar 1 kilometer di daerah Jakarta Timur.

Berikut ini cuitan lengkapnya. Kenalannya itu habis terkena PHK sehingga terputuslah sumber ekonomi untuk sementara waktu, begitu mendadak.

Ini menunjukkan bahwa pandemi memang berdampak sangat parah terhadap daya beli masyarakat dari segi ekonomi. Wabah Covid-19 yang sudah 7 bulan mendera dunia memang mengubah pola kehidupan normal sebelumnya. Pola interaksi dan cara mencari uang pun berubah. Namun memasuki era new normal atau kelaziman baru, jangan sampai kita kehilangan semangat sehingga produktivitas runtuh dan mengancam terpenuhinya kebutuhan ekonomi.

Jurus Produktif Selama Pandemi 

Adaptasi sangat dibutuhkan agar kita bisa bertahan. Produktivitas harus kita pertahankan sebagai bekal mewujudkan kebutuhan selama tinggal di rumah. Wabah memang sangat memukul lini-lini kehidupan kita cukup parah, tapi pandemi tak perlu jadi penghalang kita untuk tetap berkarya dan bahagia. Coba deh beberapa jurus produktif berikut ini.

 #1 Tentukan prioritas

Para pakar manajemen sering mengingatkan bahwa produktivitas tergantung dari kemampuan kita dalam menyusun daftar target menurut skala prioritas. Kejelian mengatur skala prioritas akan menghemat tenaga, waktu, dan sumber daya lain yang kita miliki.

#2 Manajemen waktu

Ini problem manusia modern, apalagi bagi saya yang memutuskan hidup sebagai full-time blogger. Tanpa manajemen waktu yang baik, mustahil hasil optimal bisa kita dapatkan. Alih-alih memuaskan, pekerjaan kita malah bisa berantakan akibat waktu yang tak dikelola dengan taktis. Saya biasanya membuat daily planner untuk membantu merampungkan setiap kegiatan agar tidak berujung pada kewalahan. Mana yang harus diselesaikan hari itu sesuai jam dan urgensinya, itu sangat membantu.

#3 Olahraga

Agar aktivitas ekonomi terjaga, jangan lupa berolahraga. Kebugaran fisik makin dibutuhkan ketika wabah tak kunjung hilang. Olahraga bisa menjadi sarana efektif untuk menjaga stamina dan mengusir penyakit sekaligus mencegah stres. Demi terlaksananya aktivitas-aktivitas penting setiap hari, tubuh harus selalu sehat. Sesederhana apa pun olahraganya, pastikan konsisten dijalankan.

#4 Manajemen stres

Kesehatan mental tak kalah pentingnya dengan kesehatan physical. Kendalikan stres agar tidak memengaruhi pikiran dengan beban yang tak perlu. Sesekali lakukan relaksasi atau refreshing seperti berjalan ke taman kota, baca buku, atau menonton film untuk meredakan stres. Jika memungkinkan, bagilah tugas-tugas demi mengurangi tekanan.

#5 Kolaborasi


Abad ke-21 menuntut kita punya empat skill utama yang disebut 4C: Communication, Collaboration, Creativity, dan Critical Thinking. Dengan kolaborasi pekerjaan berat bisa cepat diselesaikan. Bekerja sama dan membangun kemitraan dengan orang lain berpotensi cepat mengantar kita kepada kesuksesan. Dengan melibatkan banyak peran, target akan mudah dicapai dibanding sendirian. Dalam hal ini, jangan lupa untuk memperluas jaringan (networking) agar mudah membangun sinergi kolaboratif.

#6 Manfaatkan teknologi

Memasuki Industri 4.0, semua lini kehidupan kita nyaris hadir terkoneksi dalam dunia serbadigital. Inilah era IoT atau Internet of Things. Kecanggihan gadget dan teknologi informasi makin memudahkan hidup kita. Jangan ragu memanfaatkan kemajuan teknologi saat ini. Berbekal Internet kita dapat melakukan banyak hal: belajar, berjualan, membeli barang, menambah teman, dan bahkan mendeteksi potensi bencana, termasuk peta wabah terkini.

Berkat akselerasi teknologi yang kecanggihannya sangat luar biasa, tak ada alasan untuk tidak menggunakannya demi menunjang kehidupan kita, termasuk untuk meraup pundi-pundi rezeki di masa sulit ini. Menghasilkan pendapatan dengan memanfaatkan Internet di masa Covid-19 bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Tanpa perlu meninggalkan rumah, kita tetap bisa berburu dolar atau rupiah. 

Cara dapat uang walau pandemi menyerang  

Dengan kepala dingin dan hati yang tenang, kita bisa bangkit di saat wabah menerjang. Optimisme dan harapan harus selalu dipupuk meskipun kondisi sekeliling seolah kian terpuruk. Nah, apa saja peluang yang bisa dicoba agar rezeki tetap mengalir di tengah pandemi yang bikin ketar-ketir?

1 | Pulsa/paket data

Dengan dibatasinya aktivitas di luar rumah, banyak orang akhirnya lebih banyak bertahan di rumah alias stay at home. Mulai dari baca buku, main games, dan berbelanja online, semuanya mengandalkan jaringan Internet karena bisa diakses dengan mudah di gadget. Belum lagi aktivitas di media sosial yang tentunya membuat konsumsi pulsa dan paket data meningkat. Inilah potensi paling gampang yang bisa kita kerjakan guna mereguk keuntungan finansial. Sekarang apa sih yang tidak pakai Internet? 

2 | Camilan homemade 

Seorang relawan NBC (Nasi Bungkus Community), sebut saja Mama Zil, yang tinggal tak jauh dari rumah saya memanfaatkan keahliannya membuat sambal untuk dijual secara online. Aneka sambal ia produksi, mulai dari sambal bajak, terasi, sambal ikan, dan sambal boranan khas Lamongan ia bikin dengan semangat. Berjualan secara online memang praktis dan hemat karena tak perlu sewa tempat. Ada juga donat kentang yang ia buat sesuai pesanan untuk pasar sekitar sini.

Adapun pembeli sambalnya, ada yang dari dalam kota hingga Bandung, dan bahkan mencapai Rusia setelah dibantu oleh dinas perdagangan setempat. Keren kan? Saat wabah begini orang betah di rumah tapi harus ngemil. fMereka cenderung membeli produk atau berbelanja lewat gadget secara online. Tak perlu takut terpapar wabah sebab cukup duduk manis di rumah.

3 | Masakan matang

Mama Zil juga jago memasak lauk yang beragam. Ya tentunya menu yang sesuai selera lokal. Membuka usaha kulinerf di rumah tak kalah potensial kok. Tak sedikit keluarga yang menganggap bahwa membeli lauk matang relatif lebih murah ketimbang memasak sendiri. Malah dengan adanya jasa delivery, pesan apa pun kini bisa sampai ke tangan pembeli dengan aman. Bisnis masakan rumahan sangat menjanjikan juga karena orang sering butuh selingan dibanding menu buatan mereka sendiri. 

4 | Geluti freelancing

Saat pindah ke Lamongan tahun 2017 silam, saya mantap menggeluti dunia blogging dan freelancing. Saya tak mungkin bekerja lagi karena faktor usia dan kesehatan. Untunglah saya sudah aktif ngeblog sejak 2012 sehingga masa panen mulai saya rasakan ketika pindah. Memanfaatkan Internet untuk mendulang rupiah sangat tepat dilakukan saat ini. Lagi-lagi tanpa perlu meninggalkan rumah, rezeki bisa kita raih. Saya malah pernah mendapat job menulis ulasan dari orang Italia dengan fee 100 dolar AS. Menggiurkan tidak?

Selain blogging, pekerjaan freelance lain yang saya tekuni adalah desainer grafis, dalam hal ini menjadi lay-outer buku. Profesi ini terbilang tak sengaja dan saya pelajari secara autodidak sejak tahun 2016. Kalau blogging dan lay-outing sepi, saya mencari peluang dari jasa penerjemahan, yang juga sudah saya mulai sejak tahun 2009. Satu lagi adalah editor lepas yang pernah saya tekuni sebagai pekerjaan profesional saat masih bekerja di penerbit 14 tahun lalu. 

Kadang keempat job itu datang silih berganti atau sesekali berbarengan. Selama ada jaringan dengan banyak orang, orderan biasanya selalu ada. Jadi, kalau Anda berminat meraup duit dari Internet selama  pandemi, pertimbangkanlah menjadi blogger. Dari hari ke hari profesi bloger kian dilirik oleh brand sehingga potensi ekonominya menjanjikan. Bulan lalu saya menghadiahkan domain murah kepada seorang bloger pemula yakni teman istri yang kebetulan single mom. Saya lihat ia rajin menulis sehingga blognya potensial digarap. 


Saya ceritakan betapa asyiknya mendapat aneka hadiah, baik barang maupun uang, dari blog yang saya kelola. Lomba-lomba blog makin banyak digelar yang menawarkan hadiah uang cukup besar. Saya sendiri pernah mendapat kamera mirrorless, laptop, dan smartphone dari lomba blog, serta uang tunai tentu saja. Rezeki lain kadang berbentuk tawaran menulis dari agency lewat email dengan tema dan bayaran tertentu.  

Jika kurang minat menulis di blog, kita bisa menjajal dunia jeprat-jepret sebagai fotografer. Toh kini makin banyak kafe dan UKM yang butuh jasa foto produk. Wulan di Mojokerto dan Koh Deddy di palembang adalah dua teman narablog yang menekuni jasa fotografi seperti ini. Selain ngeblog, mereka meraup rezeki dari kamera.  

5 | Konsultan

Tak ada paksaan buat menulis, jadi selalu ada opsi lain yang bisa digeluti. Misalnya menjadi konsultan sesuai dengan keahlian atau kemampuan kita. Keterampilan khusus seperti menulis bisa dijadikan sebagai lahan rezeki loh. Seperti Mbak Kiki, bloger single parent yang tinggal di Jakarta. Ia punya anak didik yang ia bimbing dalam hal penulisan. Uniknya anak ini mengidap sindrom Asperger sehingga harus diajar secara langsung--kebetulan mereka tinggal berdekatan. 


Anda bisa menawarkan kelas online baik lewat Zoom ataupun Google Meet untuk pengguna yang ingin belajar atau memperdalam sesuatu. Bukan hanya lebih hemat dan cepat, kepraktisannya juga membuat kita bisa multitasking dengan pekerjaan lain asalkan diimbangi dengan manajemen waktu yang baik. Masih ada bidang lain yang juga menjanjikan yaitu jasa perencanaan keuangan. Financial planning kini makin relevan sebab orang kudu paham mana yang penting dan sekunder terutama kebutuhan untuk investasi.

6 | Jadi reseller

Bila tak punya produk sendiri, atau tak suka memasak, kita bisa melirik reselling. Ada banyak sekali barang yang bisa kita jual lagi kepada pembeli dengan harga dan varian yang beragam. Mulai dari frozen food, camilan (snack), masker, hand sanitizer, pakaian, dan minuman kesehatan bisa kita dapatkan lalu jual kembali. Semuanya adalah komoditas yang menguntungkan asalkan kita bisa melihat peluang dan mau bergerak tanpa pikir panjang atau malu-malu. 

Saya sendiri selama pandemi telah melakoni dunia reselling. Saya dan istri membantu teman yang memproduksi madu sehat di Semarang untuk kami jual di Lamongan. Lalu ada bumbu pecel khas Blitar yang kami dapatkan dari relawan NBC asal kota tersebut. Terakhir adalah hand sanitizer yang kami peroleh dari adik untuk kami jual lagi kepada teman dan kenalan. Ya ada saja yang membeli asalkan kita mau menawarkan, alhamdulillah. 

Malas jualan produk? Jangan khawatir, ada cara lain untuk mendapat uang tanpa repot menawarkan barang. Cara ini bahkan boleh dibilang nirmodal alias tanpa dana yang harus disetor di awal. Beberapa seller barang kadang mensyaratkan pembayaran sebagian saat kita mendapat barang. Kita bisa mencoba program afiliasi yang lebih longgar tapi sangat menjanjikan.

 

Sebut saja program afiliasi yang ditawarkan oleh banyak penyedia hosting di Indonesia. Cukup dengan menjajakan layanan hosting dari Sahabat Hosting, kita berpeluang meraup jutaan rupiah. Cuma berdiam di rumah saja. Ketika orang yang kita referensikan berhasil mendaftarkan diri lewat link referral kita, nah kita tinggal menanti komisi sampai dengan 25% dari paket yang dibeli. Coba lihat bagan berikut ini, bikin ngiler kan? 

Gampang dan menguntungkan, begini caranya!

Bukan cuma tanpa modal dan keuntungannya besar, program afiliasi di Internet juga sangat mudah dioperasikan. Dengan mengikuti langkah-langkah sederhana, pundi-pundi tabungan kita bisa bertambah -- sangat produktif untuk meningkatkan dana cadangan selama masa wabah covid-19. Masih berat ikut afiliasi yang gampang ini?

Kemudahan melakukan afiliasi bersama Sahabat Hosting benar-benar menguntungkan di saat kita didera wabah sekarang. Mungkin di luar sana affiliate marketing banyak ditawarkan, tapi tak jarang sistemnya tidak transparan terutama dari persentase pendapatan dan akurasi pelacakan penghasilan afiliasi kita. 

7 | Youtuber

Cara meraup rezeki berikutnya adalah menjadi Youtuber. Sudah bukan rahasia lagi kini tayangan di kanal milik Google itu digandrungi banyak orang. Video-video menarik di sana bisa viral dan memetik jutaan view sehingga berpotensi mengantar pemiliknya kaya mendadak. Lihat saja fenomena saat ini, ketika dunia pertelevisian, terutama sinetron mulai meredup, segenap artis mulai terjun ke arena Youtube. Mengandalkan keartisan mereka, subscriber pun berdatangan dan menjanjikan keuntungan finansial.


Namun jangan gentar duluan sebab banyak juga orang biasa yang sebelumnya tak terkenal lambat laun punya basis penonton yang besar dan menyulapnya menjadi pesohor yang kaya raya. Siapa tak kenal food vlogger Li Ziqi asal Tiongkok yang sukses menyihir publik pencinta kuliner lokal yang khas? Videonya cenderung viral dan membuatnya diganjar konon sebesar 23 juta dolar setahun. Tak heran bila kesuksesannya menginspirasi food vlogger serupa dari Tiongkok atau negara-negara lain seperti Srilanka, Vietnam, dan bahkan Indonesia.

Alat untuk membuat video pun kini semakin mudah didapatkan. Berbekal smartphone dan mikrofon tambahan yang harganya terjangkau, kini semua orang bisa menjadi Youtuber atau vlogger, mulai anak-anak hingga orang tua. Potensi keuntungan berlimpah dari Youtube jangan disia-siakan. Bergeraklah dengan kreatif lewat konten yang bermutu juga unik.

8 | Social enterprise

Terakhir, cobalah mempertimbangkan membangun social enterprise atau bisnis berbasis kegiatan sosial yang bertujuan saling meringankan beban sesama. Tak harus berbentuk organisasi yang baku dengan aturan yang ketat, tetapi bisa berupa gerakan atau inisiatif positif semacam program Canthelan yang saya singgung di awal. Canthelan adalah gerakan sederhana di Salatiga yang diawali oleh alumnus SMA untuk menyediakan sembako atau kebutuhan pokok bagi warga yang terdampak wabah covid-19.

Modelnya sangat simpel: sayur mentah, sembako, dan barang apa pun dikaitkan di pagar relawan atau pagar masjid yang dalam bahasa Jawa disebut di-canthel-kan. Siapa pun boleh mengambil dan boleh mencanthelkan kebutuhan pokok di sana. Semula berbentuk sayur mayur mentah, lama-lama ada yang mengaitkan sendal, buku, hingga empon-empon yang sangat berguna untuk menjaga kebugaran badan selama pandemi.

Ternyata gerakan ini menginspirasi banyak orang, baik turut mengulurkan bantuan berupa uang ataupun menduplikasinya di tempat lain. Dengan semangat membantu, rasanya pandemi tak akan terlalu membebani. Gotong royong seperti ini akan mengundang keajaiban, saling memudahkan terutama bagi keluarga penderita covid-19 yang harus isolasi mandiri di rumah. Mereka kehilangan sumber ekonomi karena tak bisa bekerja atau sekadar beraktivitas di luar minimal selama 2 pekan, maka social enterprise seperti canthelan akan sangat berdaya guna.  

Setia berbagi nasi

Adapun saya pribadi tetap asyik bergumul dalam berbagai acara yang diadakan oleh NBC komunitas lokal yang saya ikuti selama 2 tahun belakangan. Belum lama ini saya membuatkan blog khusus untuk NBC karena saya ingin jangkauan pembacanya semakin luas sehingga yang berdonasi pun akan semakin banyak. Salah satu donatur kami adalah seorang teman bloger yang tinggal dan bekerja di Australia. Dengan adanya blog baru yang khusus menampilkan kegiatan NBC, update itu bisa dinikmati di mana pun oleh siapa saja, terutama calon donatur baru. 

Saat ini blog NBC masih menumpang di Wordpress secara gratis karena belum memungkinkan menyewa hosting dan domain. Namun seiring perkembangan, kami menargetkan NBC memiliki portal sendiri yang disokong oleh Hosting murah. Memang tak mudah menemukan jodoh seperti penyedia layanan hosting yang andal. Pengalaman panjang dan portofolio yang kuat menjadi patokan utama dalam proses pemilihan hosting yang berkualitas.   

Cleaning service dan purchasing

Saya langsung teringat seorang relawan NBC yang belum lama ini meminta saya membuat video promosi untuk usaha cleaning service dan pengadaan barang. Kliennya yang terus bertambah hingga ke luar kota Lamongan membuktikan usahanya semakin berkembang. Sayang sekali bisnisnya belum punya website khusus sebagai portofolio usaha. Seorang teman bloger yang berencana bekerja padanya bercerita bahwa saat ini mereka tengah mencari ruko sebagai kantor. 


Meraup rezeki selama pandemi bukanlah hal mustahil. Dengan strategi dan usaha yang tepat, kita bisa tetap produktif menghasilkan pundi-pundi agar kebutuhan ekonomi keluarga tetap terpenuhi. Ada pepatah bahasa Jawa yang berbunyi, obah mamah, yakni bergeraklah maka kamu bisa makan. Ini spirit unggul untuk kita dengungkan selama pandemi. Apa saja bisa diduitin, apa pun dapat kita sulap menjadi peluang untuk mendulang rezeki. 

Asal mau mencoba dan beraksi, yakinlah jalan selalu ada. Termasuk selama wabah yang membuat kita harus memutar otak dan tetap optimis. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi semacam nyanyian yang diembuskan dari dalam hati. Tepat seperti ujaran Plato di bawah ini. Tulisan ini adalah doa dan optimisme bahwa kita akan keluar dari wabah dengan sukacita meskipun sekarang harus berjibaku dengan usaha secara online.

Usaha berbasis keuntungan finansial atau filantropi sosial sama-sama kita butuhkan, sama-sama signifikan keberadaannya. Kita semua sedang memainkan peran untuk bisa sinergi dan saling melengkapi. Saling menemukan dan menyokong dengan kebaikan. Those who wish to sing always find a song seolah menegaskan bahwa kita yang mencari bantuan akan menemukan solusi. Menemukan Sahabat Hosting yang mengikat semua komponen ke dalam jalinan yang menguatkan dan menguntungkan dalam pengertian seluas-luasnya.
  
  

Wednesday, September 30, 2020

Pasar Potensial untuk Kopi Lokal; Optimalkan Pemasaran di Dunia Digital

"Kopi kami adalah kopi liar, tanpa pupuk kimia. Kami hanya merawat semampu kami pohon-pohon kopi yang ada di hutan." 

Begitu ujar Bu Tasuri dalam sebuah kesempatan di Pekalongan tiga tahun silam. Setelah mencicipi kopi organik yang diberi label Kopi Owa tersebut, saya pun membeli beberapa pouch sebagai oleh-oleh ke Lamongan, untuk saya sendiri dan kakak yang juga penggemar kopi.


Respons kakak ternyata positif, bahkan kopi itu disajikan saat lingkungan RT-nya menghelat penyembelihan hewan kurban bersama. "Enak banget!" ujarnya singkat. Bahkan istrinya yang bukan penyuka kopi pun menuturkan bahwa para tetangga menyukai kopi tersebut. Saya tentu bahagia mendengar pernyataannya.

Potensi kopi di pasar digital

Kopi memang jadi produk yang digemari saat ini. Pasar lokal, nasional, dan global terbuka luas untuk menyerap tanaman unik ini. Karakter penikmatnya pun beragam, mulai dari remaja hingga orangtua. Ya itu semua tak lepas dari ragam kopi yang tersaji. Bukan hanya karena jenisnya yang berbeda, seperti Arabika dan Robusta, tetapi juga berkat racikan dengan tambahan seperti moka, susu, dan lainnya.

Selain owa dari Hutan Sokokembang Pekalongan, saya tertarik mengembangkan potensi kopi lokal dari Jombang yakni kopi berjenis Ekselsa. Kopi ini berciri khas rasa buah atau fruity di ujung lidah. Biasanya akibat rasa buah yang berada di sekitar kopi, seperti nangka, durian, atau klengkeng. Kopi dari Gunung Anjasmoro ini terbilang nikmat banget dan sudah dibeli banyak teman.


Dengan kemasan yang cantik, saya bahkan pernah menghibahkan sebungkus kepada Pak Johari Zein saat beliau berkunjung di Surabaya awal tahun lalu. Beliau merespons positif dan saya menyambutnya dengan wajah semringah. Sayang sekali dampak pandemi masih terasa. Saya belum bisa menambah stok karena keterbatasan biaya. Pasar masih terbuka walau perlu digali lebih dalam lagi.

Ini bukti bahwa kopi bisa menjadi komoditas ekonomi dengan keuntungan tinggi. Bisa kita olah menjadi konten lokal yang menjanjikan. Didukung dengan kecanggihan teknologi seperti Internet di gawai, kopi bisa mendulang sukses besar. Selama ini saya lebih banyak mengandalkan marketplace dan WhatsApp untuk memasarkan kopi jola-joli. Padahal bisa lebih bergairah lagi penjualannya jika saya optimalkan digital marketing lewat Instagram dengan copywriting yang ciamik. Sudah saatnya kita memanfaatkan dunia digital agar keuntungan finansial bisa kita raih. 


Friday, August 28, 2020

Melihat Li Ziqi Masak, Betah Berlama-lama Tak Bergerak

Melihat Li Ziqi masak memang membuat betah berlama-lama di depan laptop atau hape, menikmati kanal Youtube-nya yang memikat. Bukan cuma masakannya yang tampak nikmat, tapi cara membuatnya sangat unik dilengkapi dengan pesona dan kekayaan alam di tempat tinggalnya. Tak heran jika Li Ziqi seolah menyihir publik dunia; lewat parasnya yang cantik dan kepiawaiannya menghadapi bumbu-bumbu untuk diracik food vlogger China ini menyeruak mencuri perhatian warganet.

Li Ziqi memasak dengan penuh semangat dan passion yang tinggi.


Kegiatan memasak sebenarnya biasa saja, tetapi di tangan Li Ziqi dara manis asal Sichuan mengolah bahan mentah menjadi makanan matang sungguh terlihat menawan. Bahan-bahan yang ia ambil dari sekeliling rumahnya, yang semua terlihat organik, ditambah cara memasak yang unik membuat kanal Youtube miliknya dibanjiri pelanggan (subscriber).

Yang tak kalah menarik adalah menu-menu yang ia tampilkan dalam setiap episode setiap pekan. Ada saja menu atau hidangan yang tak terbayangkan oleh saya sebagai penonton. Bunga, buah, dan umb-umbian bisa disulap menjadi santapan lezat dengan tampilan memikat lewat proses yang elegan.

Melihat Li Ziqi masak membuat jiwa eksperimen berontak. Pengin mencoba resep serupa tapi apa daya diri ini serng dilanda kemalasan. Akhirnya menonton dan menonton lagi, sambil membayangkan kelezatan makanan dan kerumitan proses memasaknya. Ya pedas, ya segar, ya gurih--semua bergiliran tersaji di video Li Ziqi masak itu.

Bagaimana dengan sobat hudu? Adakah yang menyukai kanal Li Ziqi dan bahkan sering meniru resepnya? Saking populernya, banyak food vlogger China lainnya yang mengikuti jejak Li menjadi penampil di Youtube dengan gaya berbeda walau cenderung mirip.


Sunday, August 9, 2020

Berbagai Keuntungan Kurban di Rumah Potong Hewan (RPH)

Potong hewan kurban di RPH? Kenapa tidak? Itulah yang NBC lakukan akhir Juli silam. Walau dilanda wabah, kurban Iduladha harus tetap terlaksana. Pelaksanaan kurban malah semakin urgen di tengah pandemi sebab banyak orang terdampak yang sangat membutuhkan. Para pengayuh becak, pengojek, pemulung, dan janda miskin tetap jadi sasaran yang akan menerima daging.  

Keuntungan berkurban bersama RPH


NBC (Nasi Bungkus Community) sebuah komunitas berbagi di kota Lamongan menggelar pemotongan kurban hari Jumat tanggal 31 Juli 2020. Uniknya komunitas yang saya ikuti ini memercayakan penyembelihan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH). Tahun ini cukup istimewa karena berbeda dari tahun sebelumnya ketika NBC hanya menitipkan pemotongan di sana lalu daging dibawa ke basecamp di Jl. Kusumabangsa 25A untuk dipotong lebih kecil dan ditimbang sesuai kebutuhan.


Tahun ini selain penyembelihan sapi, daging langsung disiapkan di lokasi RPH. Di depan gedung RPH terdapak lapak luas yang bisa dimanfaatkan untuk mengolah daging hingga siap dikemas. RPH yang terletak di Jl. Pahlawan tak jauh dari pasar induk Lamongan ini memiliki tim yang solid. Banyak keuntungan yang bisa disebutkan dengan menyiapkan daging langsung di lokasi RPH alih-alih di basecamp seperti tahun-tahun sebelumnya.

Halaman depan basecamp NBC sangat mungil sehingga tidak memungkinkan relawan bergerak bebas dalam mengelola daging. Keputusan memotong hewan kuban dan menyiapkan paket daging di sana terbilang tepat dan bahkan taktis. Beberapa manfaat berikut perlu dicatat untuk bisa ditiru pada kesempatan mendatang.

Keuntungan pertama, praktis dan mudah. Tak seorang pun dari kami para sukarelawan merupakan tenaga ahli dalam penanganan hewan sembelihan seperti kurban. Sebut saja pemisahan daging dari tulang yang jelas membutuhkan keterampilan khusus. Jika ditangani oleh tenaga amatir, bisa-bisa daging malah rusak dan tak banyak yang bisa dibagikan untuk para penerima kupon nantinya.

Cepat dan serbamudah

“Mas Rudi ketiban sampur, jadi ketua panitia kurban ya,” ujar Mbak Pipit sekretaris NBC Jumat pagi sepekan sebelum kurban dilaksanakan. Saya kaget karena saat rapat sepekan sebelumnya saya tak hadir lantaran tak enak badan. Syukurlah semua berjalan lancar.

Jam 7 pagi saya dan istri segera bergerak ke RPH. Sebelumnya kami mampir ke rumah Mas Agus yang kebagian tugas mengurus perlengkapan. Mas Agus dan istri rupanya sudah berangkat. Alhamdulillah banner yang desainnya saya kirim sehari sebelumnya sudah beres dicetak. Begitu kami susul ke RPH, mereka ternyata belum ada di lokasi.


Beberapa menit kemudian, mereka muncul. “Dari basecamp ambil ini,” jawab Mas Agus sambil menunjuk banner bekas tahun lalu dan talenan. Banner bekas akan kami pakai sebagai alas pemotongan. Tak lama berselang Mbak Pipit datang membawa printout berisi nama-nama pekurban. Tanpa jeda lagi, saya segera menemui tim RPH yang dikepalai drh. Rendra agar memulai penyembelihan.

Ada dua ekor sapi yang NBC titipkan untuk disembelih di RPH tahun ini. Mulai jam 7.30 sapi pertama dan kedua segera dipotong. Seperti biasa saya harus mengabadikan prosesi dalam bentuk video untuk dilaporkan kepada donatur. Sejak sapi dipindah dari kandang menuju tempat penyembelihan, hingga proses pengolahan daging semua terdokumentasi. Sebelum sapi disembelih, tak lupa dibacakan doa dan iringan takbir bersama.


Hanya tiga jam

Sapi pertama selesaai disembelih, lalu segera dikuliti. Cara kerja tim RPH sangat cepat. Tak heran jika sukarelawan NBC sangat dimudahkan. Mbak Yenny yang datang bersama kedua putrinya sudah sedari tadi menyiapkan besek bambu. Dibantu Mbak Yuli, Mbak Atik, Mbak Yogi dan tiga karyawan Mbak Pipit, pekerjaan demi pekerjaan pun terselesaikan. Besek bambu dialasi daun pisang agar lebih higienis.

Khusus Mbak Atik bendahara NBC sigap menata timbangan dan memroses daging yang telah siap. Daging, jeroan, dan tulang iga berpindah ke tangan kami dari tim RPH secara bergiliran. Bentuknya lebih kompak sehingga mudah dikelola. Begitu daging masuk, kami langsung potong dan timbang. Begitu seterusnya.


Pak Anang Purwo selaku pembina NBC lalu datang—lengkap dengan seragam polisi. “Di Jl. Sunan Drajat sini, Pak,” ujarnya ketika saya tanya baru bertugas di mana. Sehari-hari beliau berdinas sebagai KBO Satlantas Polres Lamongan. Kedatangan beliau untuk memastikan semuanya siap dan terlaksana dengan baik. Juga berkoordinasi dengan RPH jika ada yang belum sesuai. Syukurlah dukungan aktif RPH sangat membantu kami.

Jam 10.30 atau tiga jam sejak 7.30 dua ekor sapi sudah beralih rupa ke potongan kecil dalam 250 besek bambu. Suami Mbak Atik datang membawa mobil bak terbuka untuk mengangkut paket daging ke basecamp NBC. Pembagian direncanakan jam 1 siang selepas Jumatan. Sebagian paket sudah dikirimkan secara bertahap menggunakan motor kepada penerima dan pekurban.

Higienis dan ekonomis

“Dagingnya beda ya, bersih!” komentar ibu saat kami buka besek yang akan diberikan kepada pembantu beliau yang seorang janda. Wajarlah karena penyembelihan bagus sehingga darah sempurna dialirkan. Di bawah pantauan dokter hewan dan asisten RPH, sapi juga dipastikan steril dari penyakit atau stres. Darah tak menetes menembus besek juga berkat alas daun pisang.


“Dulu pernah ada insiden cingur sapi berdarah karena dipaksa jalan,” cerita Bu Heny ketua NBC saat kami menunggu penerima kupon berdatangan di basecamp. Wajahnya tampak sedih.

Bukan cuma higienitas dan kecepatan, penanganan hewan kurban oleh RPH juga relatif terjangkau. “Dulu pernah kami pasrahkan ke orang lain. Tapi setelah sapi disembelih, kami masih harus cari tenaga lagi untuk menguliti dan memisahkan daging. Lebih repot dan malah mahal,” kenang Pak Anang tentang pengalaman kurban NBC beberapa tahun sebelumnya.


Selepas Jumatan para penerima kupon berdatangan ke basecamp untuk menjemput daging dalam besek. Jl. Kusumabangsa 25A cukup ramai siang itu tapi tetap terkendali karena semua mengikuti protokol kesehatan. Silih berganti datang, semua tertib berjalan. Pembagian daging lancar dan selesai sebelum Asar. Beberapa pengayuh becak datang tanpa kupon. Mereka juga kami beri besek karena paket daging sengaja kami lebihkan.

Tak ada makan bersama


Yang bikin sedih tahun ini acara makan bersama terpaksa kami tiadakan. Setiap tahun kami mengundang anak-anak yatim untuk menyantap sate dan gule di markas. Biasanya ada 40-anak dari dua panti. Para pemulung dan tukang becak juga datang ikut makan. Lumayan kan, tak perlu repot masak. Hemat bumbu dan gas.

Karena sedang didera pandemi, NBC memutuskan mengirimkan sup daging matang ke beberapa panti asuhan. Tak cuma itu, makanan matang dalam besek juga dikirimkan ke desa-desa sesuai pantauan relawan. Jadi momen kegembiraan bukan hanya dibagikan pada saat Ramadan.

Tetap kurban eco-friendly


Hingga tahun ketiga NBC terus mengupayakan kurban eco-friendly atau ramah lingkungan salah satunya dengan menggunakan besek anyaman bambu untuk mengemas daging. Paket daging dibagikan begitu saja tanpa dibungkus lagi dengan plastik kresek seperti umumnya. Ini andil kecil kami untuk mengurangi sampah yang sulit diurai di Bumi. Kami juga menyisipkan selembar daun pisang sebagai alas di dasar besek.

Besek bambu selama ini kami datangkan jauh-jauh dari Blitar sebab harganya relatif terjangkau. Besar harapan kami langkah sederhana kecil ini juga akan diikuti oleh komunitas lain dalam upaya pelestarian lingkungan. Tak bisa menghilangkan sama sekali, setidaknya mengurangi sampah plastik.

Reportase di media

Menurut penuturan Pak Anang saat pembagian daging di basecamp, RPH Lamongan sangat berterima kasih karena langkah NBC menyembelihkan hewan kurban di sana diikuti oleh komunitas lain. Masjid Al-Azhar Lamongan, misalnya, ikut mengirimkan 6 ekor sapi untuk disembelih di RPH. Lalu ada Yayasan Al-Kahfi yang juga tampak menguliti hewan kurban di lokasi. Wah, hari itu serasa guyub karena fasilitas pemda kami berdayakan.


Kegembiraan lainnya adalah karena reportase kegiatan yang saya tulis berhasil dimuat di Harian Surya pada rubrik Citizen Reporter edisi Jumat 7 Agustus 2020. Tahun lalu kegiatan kurban kami juga dimuat di media yang sama, pada bulan Agustus 2019. Publikasi seperti ini tentu bukan tujuan utama kami, tetapi lebih untuk mendorong agar komunitas lain ikut melakukan kebaikan yang sama atau bahkan lebih baik. Itulah esensi berkomunitas yang sesungguhnya, ketikafmonga komunitas lain bisa terinspirasi sebab kami sadar bahwa NBC kecil dan tak mungkin menjangkau semua wilayah.

Manfaatkan RPH

Singkat kata, memotong hewan kurban di RPH sungguh memudahkan dan menguntungkan, apalagi bagi komunitas yang ingin cepat menyiapkan dan membagikan dagingnya. Yang tak kalah penting, memotong kurban di RPH juga berpotensi menambah kas pendapatan asli daerah agar bisa dimanfaatkan lagi untuk pembangunan setempat. Tentu bukan cuma hewan kurban, ternak lain untuk hajatan misalnya juga bisa disembelih di RPH setempat.

Itulah sekelumit cerita kami komunitas kecil di kota yang juga kecil. Semoga tahun depan jumlah hewan kurban semakin bertambah agar lebih banyak yang bisa dibagikan. Makin banyak keluarga yang terlibat. Insyaallah masih setia dengan RPH karena menyembelih kurban di Rumah Potong Hewan punya banyak keuntungan. 

Friday, July 17, 2020

Selain Li Ziqi, Ini 5 Food Vlogger China yang Wajib Ditonton

Publik dunia sudah akrab dengan nama Li Ziqi, food vlogger China yang menangguk keuntungan konon mencapai 23 juta dolar per tahun berkat tayangan videonya tentang kehidupan pedesaan di Sichuan. Setiap unggahan video di kanal Youtube yang ia kelola selalu banjir pujian, baik berbentuk komentar maupun jempol (like). Videonya memang sangat unik, menampilkan keelokan hutan dan gunung di kampung halamannya yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, yakni Li dan sang nenek.


Membuat kertas dan minyak sendiri

Tak heran jika akun Youtube miliknya menarik 11,4 juta orang untuk menjadi subscriber. Dalam setiap video yang ia unggah setidaknya sekali seminggu, Li Ziqi menunjukkan kepiawaiannya memasak dari bahan-bahan di sekitar dengan bantuan alat-alat tradisional. Self-sufficiency benar tecermin dalam setiap fragmen. Membuat kertas sendiri, menganyam topi dari jerami gandum, dan membuat minyak hanyalah tiga dari sekian keterampilan yang pernah ia pertontonkan. Semuanya banjir pentonton dan komentar. 

 

Sebagai food vlogger China yang sukses, Li Ziqi bukan hanya menggarap video di Youtube dengan serius dan profesional. Akun media sosialnya pun dikelola dengan sungguh-sungguh sehingga ramai penggemar. Terbukti dengan fanpage di Facebook yang menuai 3,5 jutaan follower dan 2,3 jutaan like. Belum lagi follower di Twitter yang mencapai 43,3 ribu akun. Engagement di medsos pun bagus, senantiasa sesak dengan komentar, like, dan share

Li bergabung di Youtube sejak 22 Agustus 2017 dan kini telah mencatatkan 1.564.512.383 view. Wow, 1,5 miliar sungguh angka yang fantastis untuk ukuran orang yang bukan berlatar belakang selebriti. Dia menyeruak berkat videonya yang unggul, yang hingga kini telah dibukukan sebanyak 112 video di Youtube. Bukan karena kontroversi atau prank yang merugikan. Orang dengan senang hati membagikan informasi tentang dirinya di media sosial. Itulah sihir Li Ziqi.

Food vlogger China yang tak kalah unik


Selain Li Ziqi, rupanya ada beberapa food vlogger China lain yang layak ditonton. Menariknya, lima food vlogger berikut ini juga berjenis kelamin perempuan, tak satu pun laki-laki. Setidaknya sejauh ini belum saya temukan food vlogger China yang lelaki. Kalaupun ada Youtuber pria yang mengangkat masakan Cina, mereka nonpribumi alias orang asing seperti akun The Food Ranger dan Mark Wiens. Itu pun tidak spesifik hingga proses memasak dengan tangan sendiri, hanya sebagai penikmat.

Berikut ini lima food vlogger cewek asal Tiongkok selain Li Ziqi yang saya urutkan berdasarkan jumlah subscriber di akun Youtube mereka masing-masing. Saya tak bermaksud membandingkan kualitas video atau konten yang mereka tayangkan, apalagi jumlah pemasukan. Yang jelas, Li Ziqi memang membawa angin segar berupa inspirasi bagi gadis Cina lainnya untuk mengabarkan pada dunia tentang tempat tinggal dan budaya mereka salah satunya lewat makanan dan kekayaan alam sekitar.

1 | Dianxi Xiaoge


Dianxi Xiaoge adalah moniker alias nama panggung yang dipilih oleh food vlogger cantik ini. Menurut penuturannya dalam wawancara bersama reporter Goldthread Clarissa Wei, nama aslinya adalah Dong Meihua dan kini ia bermukim di daerah bernama Dianxi. Sementara Xiaoge terdiri dari dua kata xiao yang berarti kecil dan ge yang bermakna adik. Ia berpendapat xiaoge terdengar pemberani ketimbang xiaomei (adik perempuan) yang mungkin terdengar cemen

Dong Meihua mengaku berasal dari Yunnan, sebuah provinsi di Cina selatan. Seperti tampak dalam video-videonya, ia menceritakan bumbu-bumbu lokal, atau produk setempat yang khas, dan tentu saja kuliner yang menunjukkan cita rasa Yunnan. Sumber inspirasinya berasal dari menu-menu keseharian. Itulah yang ia unggah setiap Rabu sejak bergabung di Youtube tanggal 25 Juli 2018 atau setahun setelah akun Li Ziqi aktif.


Banjir view dan follower medsos

Dengan perolehan total 1,3 miliar view dan 5,5 jutaan subscriber, akun Dianxi Xiaoge pun menjadi buah bibir di jagat maya tentang potensi pendapatannya. Sebuah sumber menyatakan penghasilannya mencapai 5 juta dolar per tahun. Yang jelas, akun media sosialnya cukup padat. Fanpage-nya di Facebook memanen 766 ribuan like sementara akun Instagram meraup 154 ribu follower dengan 0 following. Nama Dianxi Xiaoge pun meroket dan segera disandingkan dengan Li Ziqi yang terlebih dahulu populer. Setidaknya dalam jumlah video yang ditayangkan di Youtube, Dianxi membukukan total 182 video, jauh melampaui Li Ziqi. 

Dong Meihua selalu tampil percaya diri di depan kamera dengan sesekali menyapa tetangga atau orang dekat sebagai ciri khasnya. Dramanya memang tak sebanyak Li Ziqi. Ia tampak terampil menyiapkan bahan sekaligus memasaknya, sama seperti Li. Ditemani anjing besar berjenis Malamute dalam setiap aksinya, Meihua seolah mampu menembus batas dan jarak geografis sehingga penonton merasa bersatu dalam tayangannya—memahami budaya Cina lewat kekayaan lokal dan cara mengolahnya.

Berhenti jadi polwan

Meihua memutuskan pindah ke tempatnya saat ini pada tahun 2016 karena ingin merawat sang ayah yang kesehatannya kian menurun. Demi misi mulianya, ia pun rela melepaskan pekerjaan sebagai polisi di Provinsi Sichuan, yang tak jauh dari perbatasan dengan Yunnan. Jangan-jangan ia dan Li Ziqi saling kenal ya karena Li tinggal di Sichuan, hehe.


Mulai merekam menggunakan kamera ponsel, Dong menyadari kekeliruan demi kekeliruan dalam membuat video. Mulai dari gambar yang overexposed, underexposed, hingga kamera yang bergoyang. Namun itu dulu, sekarang sudah berubah seiring bertambahnya pundi-pundi penghasilan sehingga peralatan tempur pun semakin memadai ditambah semangat belajar dan memperbaiki diri.

“Makanan-makanan itulah yang menemaniku tumbuh,” ujar Dong Meihua tentang alasan mengangkatnya sebagai materi video. Mungkin semacam melodi memori ke masa kecil yang menyenangkan. Sekaligus melestarikan kuliner daerah yang bisa saja punah jika tidak dipraktikkan oleh generasi masa kini. Dia mengaku timnya harus bekerja mulai pukul 6 atau 7 pagi dan baru berakhir jam 11 malam. “Kadang ada juga pas masak sebuah menu ternyata gagal, jadi harus masak lagi deh.”

Sungguh perjuangan berat yang kini membuahkan hasil yang nikmat. 


2 | Wild Girl


Food vlogger China berikutnya tak kalah populer, setidaknya dilihat dari jumlah subscriber yang mencapai 199 ribu dengan unggahan total 72 video dan 37 jutaan view padahal baru setahun bergabung di Youtube yakni sejak 27 Juli 2019. Berbeda dengan rekan vlogger senegaranya yang mengadopsi nama Tiongkok, ia memilih moniker berbahasa Inggris, Wild Girl. Mencerminkan kebebasan dan kemandirian, mungkin begitu pesan yang ingin disampaikan.

Terhadap sebuah video yang diunggahnya, ia dituding telah meniru Li Ziqi tapi segera disanggah oleh komentator lain bahwa langkah itu sah-sah saja. Banyak sudut dan kekayaan Tiongkok yang bisa digali, dan kehidupan setiap orang itu unik meskipun mirip. Demikian dalih mereka. Meniru atau tidak, silakan tonton sendiri dan nikmati kanalnya di Youtube.



3 | Laotai Arui


Laotai Arui adalah food vlogger ketiga yang boleh dibilang berbeda di antara keempat teman senegaranya. Ia berbeda karena jelas menyatakan sebagai muslimah sehingga menjamin setiap masakan yang ia tampilkan halal dimakan. Menurut pengakuannya di akun Youtube, Laotai berarti old lady. Mungkin bisa disamakan dengan grandma atau nenek karena pemeran yang muncul di kanal ini sudah berumur. 

Namun itu sama sekali bukan masalah. Terbukti ia berhasil menghimpun 6,7 jutaan view di Youtube lewat 50 video yang didukung oleh basis penggemar sebanyak 111 ribu subscriber. Dilihat dari tanggal bergabung di Youtube yakni 29 Januari 2010, Laotai Arui mestinya bisa mengoleksi video lebih banyak dibanding Li Ziqi atau Dianxi Xiaoge. Namun inilah uniknya: ia selalu bersemangat dan makin konsisten mengunggah vlog setiap Rabu dan Sabtu waktu Beijing. Demikian janjinya di akun Youtube. 


Sayang sekali ibu asal Yunnan ini tidak mengembangkan fanpage khusus di Facebook melainkan sebuah akun biasa yang butuh konfirmasi saat orang lain ingin menjadi temannya. Akun FB-nya tercatat hanya berteman dengan 900 orang yang boleh dibilang minim untuk ukuran Youtuber dengan subscriber yang banyak. Barangkali dia lebih fokus di Youtube untuk memperkenalkan keindahan dataran tinggi Yunnan yang dihuni begitu banyak grup etnik, terutama etnik-etnik minoritas. Siap menonton videonya memasak hidangan talas yang lezat?


4 | Yang Dawan


Tanggal 14 Juli 2019, atau 10 hari sebelum Wild Girl membuat akun di Youtube, akun bernama Yang Dawan telah lebih dahulu mendaftar di kanal yang sama. Kini akun gadis ceria asal Hunan ini telah mengunggah 24 video yang diganjar dengan total 3,5 jutaan view dan diikuti oleh 41 ribu subscriber


Walau jumlah pelanggan tak sebanyak milik Wild Girl, tetapi Yang Dawan berjanji mengunggah video setiap hari Senin dan Jumat dengan konten khas pedesaan Hunan yang akrab dengan aroma nenek. Hunan adalah sebuah provinsi di Cina bagian tenggara antara pegunungan Nan Ling dan pegunungan Chang Jiang yang dikenal sebagai penghasil kayu dan sumber mineral berharga.


5 | Long Meimei 


Akhirnya Long Meimei atau si dragon sister berada di urutan terakhir food vlogger China dari segi jumlah subscriber. Dalam akun Youtube-nya Long Meimei mengaku bahwa orang-orang di daerahnya cenderung suka pada self-sufficiency atau merasa cukup dengan apa yang tersedia di alam sekitar. Tak banyak yang bisa diceritakan tentang adik kecil ini selain lewat tayangan video yang sudah diunggah sebanyak 89 buah. 


Video-video itu mampu menggerakkan 606 orang untuk menjadi subscriber. Bergabung sejak 21 Mei 2018 atau dua bulan sebelum Dianxi Xiaoge aktif, Long Meimei kini berhasil meraih 112 jutaan view di Youtube dan 712 follower di fanpage Facebook. Bravo, sista! Semoga tetap semangat dan konsisten membagikan kabar gembira dari desamu.

Senandika dan ide serupa

Tulisan ini tak hendak membandingkan kelima vlogger atau Youtuber, entah dari segi mutu video atau pendapatan. Lebih dari itu, ini menjadi semacam pengingat bagi masyarakat modern bahwa ada kehidupan lain selain gemerlap peradaban modern dan gempita teknologi canggih yang dalam kadar tertentu kadang begitu kita ‘sembah’ padahal sebetulnya menggerogoti kepribadian kita—menciptakan kesunyian yang tak bisa kita suarakan. Lewat tayangan-tayangan sederhana bernuansa pedesaan yang mereka unggahlah kita seolah bercakap dengan diri kita semasa kecil. 

Begitu sekian video tuntas kita tonton, mungkin kita seketika membayangkan tungku-tungku tanah liat di dapur berdinding gedek yang berpijar merah dengan serbuk gergaji, membakar kuali-kuali besar berisi ketupat atau menu-menu penuh kenangan. Mungkin tercipta solilokui atau senandika yang memberi kesempatan bagi kita untuk melakukan monolog sebebas dan sejujurnya tentang arah dan tujuan, tentang arti sukses dan kemajuan, tentang kenangan yang harus kita maknai sendiri.

Ada yang punya ide bikin akun serupa food vlogger China itu versi etnik Indonesia?